It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
Actually gue sedang tidak berada dalam posisi yang menguntungkan untuk nge-review. Sebabnya, konsentrasi lagi terpecah dengan macam-macam hal. Tapi karena hari ini hari yang rare banget (hanya terjadi 4 tahun sekali), ya dipaksain ngepost deh hehehe.
Asus eee pc yang akhirnya berjodoh dengan gue itu warnanya putih. Pearly white gitu and looks great. Harganya 5 juta. Secara singkat spec-nya adalah sbb:
Asus Eee 4G Ultra 7” Micro Laptop PC (900 MHz Intel Celeron Processor, 512 MB RAM, 4 GB Hard Drive, Linux Preloaded) Pearl White
Yang ada di gue kebetulan pake built-in camera juga. Dan FYI, built-in camera-nya bagus banget loh. Paling nggak Vaio gue yang 3x lipat lebih mahal itu kalah jauh kualitas kameranya.
Setelah beli, langsung dipasangin Windows Xp. Jadi soal pemakaian nggak ada bedanya dengan biasanya. Cuma mungkin, keyboardnya lebih kecil dari biasa sehingga… ya cape de nulisnya suka typo-typo hehe.
Tadi udah nyobain internet wireless connection juga. Bisa berjalan dengan baik. Awalnya bingung kok nggak konek-konek. Ternyata dia pake program luar windows gitu buat wirelessnya. Trus ya tinggal di pilih option agar windows mengambil alih proses wireless connection. (Wireless Network Connection > Change advanced setting > Wireless Network tab > Pilih ‘Use Windows to configure my wireless network setting’). Voila, internet bisa jalan dengan lancar.
Sempet nyobain pasang SD Card di slot-nya. Trus setelah dimasukin sampe mentok, kok nggak ada respon, dan yang ada kartu SD gue malah stuck hahaha
Untung bisa lepas lagi :P Entahlah sampai sekarang gue nggak bisa figure it out yet.
Masalah hard-disk ini cukup mengganggu gue juga. Kapasitas 4 GB itu nggak cukup untuk ngapa-ngapain. Setelah diinstall windows aja udah tinggal 1 GB
Jadi ya…
Apakah Asus eee pc itu bagus? BAGUS. Untuk orang yang tepat.
Orang yang tepat memiliki Asus eee pc:
1. Blogger (iya, kamu!)
2. Orang yang sering presentasi dan meeting di luar (MLMers maybe)
3. Novelis (bisa ngetik dan browsing, cukup)
4. Pejabat (biar nggak ribet bawanya)
5. Traveler (biar bisa bikin travelog)
Udah mungkin itu aja.
Dalam kesempatan ini gue juga ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Acer gue yang sudah setia menemani selama 3 tahun lebih dan selamat datang untuk Vaio yang mudah-mudahan akan lebih setia lagi. Tak lupa untuk Asus eee pc, sang anak bungsu, welcome to Ollie’s world.
Pertama kali gue baca resensi ‘The girls of Riyadh’ itu disebuah majalah wanita. Karena buku ini katanya berisi kisah a la sex and the city versi Arab, maka buku ini pun dilarang beredar di Arab Saudi. Jadi tambah penasaran aja gue. Years later, tepatnya Desember kemarin, buku versi Indonesianya dirilis. Wah, tentu saja langsung gue grab dan habis dalam sekali telen.
Penulis buku ini ceritanya telah memberanikan diri untuk menulis kisah-kisah hidup sahabatnya, para gadis Riyadh, yang rata-rata agak tragis. Setiap minggu, kisah sahabat-sahabatnya (Qamrah, Sadim, Michelle dan Lumies) diposting di milis dan telah menuai kehebohan nasional karena cara bertuturnya yang blak-blakan.
Kisah-kisahnya ‘klasik’ dan bakal ada di belahan dunia manapun. Tentang percintaan, seks bebas, pengkhianatan, orang tua yang ikut campur, pelanggaran norma, dan semua yang ‘sudah biasa’ muncul di topik-topik cerita barat. Kenapa yang ini heboh? Karena semua terjadi di Arab Saudi. Negara dengan hukum Islam yang dijalankan dengan ketat.
It’s very interesting how Rajaa (penulisnya), menggambarkan tentang versi laki-laki (dan wanita) Arab yang taat, setengah taat dan tidak taat agama, lengkap dengan ciri-ciri masing-masing. Kok sama aja kayak di Jakarta hehe.
Baca buku ini tanpa menghakimi atau mengerutkan kening. That way, we’ll eventually feel related to Rajaa stories.
Berikut cover ‘Girls of Riyadh’ or ‘Bnat al Riyadh’ dalam versi Amerika dan Arab.

Versi Indonesianya bisa dibeli dengan diskon 15% di kutukutubuku.com
One thing leads to another. Tau-tau dah bawa pulang K800i idaman gue sejak dulu. Huhuhuhu senangnya… jadi gampang snap photos untuk Jakarta Daily Photo dan Mycityblogging.
Kemaren stres seharian ngurusin settingan TelkomselFlash. Harusnya tinggal masukkan SIM ke handphone baru, terus otomatis langsung bisa. Ternyata nggak bisa-bisa konek. Baru ketemu masalahnya sehari kemudian (setelah hampir gila karena ternyata customer servicenya juga nggak menolong sama sekali).
Jadi, di komputer, masuk ke PC Suite Sony Ericsson, pilih Mobile Networking Wizard. Bikin New Connection atau Edit Connection Setting (jika sudah ada). APN-nya diisi flash. (Ternyata gue kemaren gak tau kenapa bisa berubah APN-nya jadi telkomsel. Pantesan aja meskipun bisa connect, tapi gue kena kutip Rp 12/kb instead of Rp 100.000 per 24 jam. Untuk yang belum pake TelkomselFlash sama sekali, bisa dicoba kirim sms untuk mengaktifkan, ketik FLASH kirim ke 3636 trus bikin dial up ke flash di web.
Kembali ke masalah hape SE K800i gue… kameranya berguna banget untuk:
Pemotretan produk bisnis online

Dokumentasi tempat kerja gue (sekarang gue kerja dimana saja haha)

Foto a la mata-mata di tempat private seperti gudang jilbab ini

Ngambil snapshot dari dalam mobil buat promosiin campaign pemerintah

And, many more!!
Saya menghela napas setelah selesai membaca buku ‘168 jam dalam sandera’ milik Meutya Hafid, yang menceritakan pengalamannya beserta Budiyanto selama disandera di Irak. Kisahnya sungguh menghanyutkan dan membuat saya ikut tegang, terharu, harap-harap cemas, serta mengerti apa yang dirasakan Meutya Hafid saat itu.
Buku dibuka dengan kepanikan yang melanda saat mereka dihadang gerombolan bersenjata di sebuah POM bensin. Sejatinya mereka sudah akan keluar dari perbatasan Irak saaat ditugaskan masuk kembali untuk meliput perayaan As-Syuraa. Dari POM bensin itu mereka digiring ke sebuah gua kecil di padang pasir, tempat mereka disekap.
Perlakuan yang diterima Meutya dan Budi selama disandera sangat baik. Mujahidin menyediakan makanan tergolong mewah untuk mereka. Makan kebab dengan daging, ritual minum teh bersama, hingga ngobrol dan bercanda. Terdengar seperti kegiatan antar teman atau kerabat, namun kenyataannya itulah yang terjadi di antara Meutya dan para penyandera.
Hidup dalam sekapan jelas tidak menyenangkan,dengan berbagai keterbatasan ruang dan privasi serta fasilitas MCK, belum lagi ‘ancaman’ dari rentetan tembakan dan bom dari tentara koalisi yang semakin mendekat. Tapi mengutip kata Budiyanto, ‘Jika di peluru itu tidak ada nama kita, maka kita tidak akan terkena’. Percaya pada takdir.
Untungnya upaya dari Indonesia telah membuat proses pembebasan mereka yang tanpa syarat berjalan dengan baik. Saat mengumumkan penculikan, para penculik melakukan pengambilan gambar untuk disiarkan di media seluruh dunia. Begitu juga saat pembebasan. Budiyanto diberi Al-Quran dan langsung spontan menciumnya. Sedangkan Meutya Hafid diberi berbagai ‘oleh-oleh’ termasuk kerudung. Kerudung itu konon harus dipakai padahal tangan Meutya sudah ‘penuh’. Terpaksa kerudung itu hanya bisa disampirkan di bahu. Di bukunya, Meutya menjelaskan insiden kerudung itu sehingga menjawab pertanyaan gue dan Angga beberapa tahun yang lalu saat melihatnya di televisi dan keheranan karena Meutya terlihat seperti ‘memaksakan diri’ untuk memakai kerudung itu.
Sekarang Meutya Hafid dan Budiyanto tentu sudah menjadi pribadi-pribadi yang lebih hebat lagi dari sebelum penculikan itu. Karena itulah esensi dari mengambil pelajaran hidup. Begitu, kan?
“MERUNDUK!!!”
Gue spontan berteriak sambil menarik unwinged untuk merunduk di lantai rumah gue, dari kejauhan tampak berkas sinar masuk melalui jendela kaca ruang depan.
“Pssstt… hati-hati 47… ada yang mengintai kita!”
Unwinged yang tersungkur di lantai menatap gue dengan khawatir.
“Kamu udah gila ya!”

Huaheuehue… beginilah kejadian nyata yang terjadi setelah kita berdua pulang dari nonton film Hitman. Kata Goldy, gue terserang Hype. Suatu kondisi dimana seseorang over excited about something yang baru dialami/dilihat/ditonton/dibaca.
Hitman adalah video game yang difilmkan dengan cukup sukses. Terutama karena pemeran utamanya, Timothy Olyphant, bermain apik di film ini. At least, gue berpendapat kalo karakter Agen 47 yang diperankan sama dia itu ‘dapet’ banget! Mulai dari ‘karakter pembunuh berdarah dingin’ yang showed in his face, sampai ketajaman matanya yang bener-bener cool abis.
Hitman would be popular di kalangan cewek. Nggak tau deh kalo cowok suka apa nggak hahaha LOL. Yang jelas, gue jatuh cinta sama Agen 47. Bagaimana dengan Anda? Tonton dulu kali ya
I’m going to Surabaya this afternoon. I’ll see you there!