It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
If you like Twitter, you’ll LOVE Plurk! Plurk is from People + Lurk, basically stalking what our friends doing in form of a timeline. They also have Karma, the bigger the Karma, the more you can customize your Plurk Page.

If you think Plurk is wasting your time, think again! Here’s why I love Plurk:
Now, just sign up to Plurk will you?! This is my Plurk Profile by the way
See you there!
Saya memutuskan untuk membuka kategori baru di blog saya, judulnya ‘Ask Ollie’. Sejak lama, banyak dari pembaca blog yang mengirimkan email secara langsung untuk bertanya mengenai berbagai macam hal, mulai dari web developing, bisnis, menulis, marketing, cari kerja, dll. Akhirnya daripada saya menjawab suatu hal berulang kali, sekalian saja akan saya masukkan jawaban pertanyaan saya pada setiap post ‘Ask Ollie’. Bagi yang ingin ‘Ask Ollie’ juga, silahkan kontak saya. Semoga bermanfaat!
Hi Ollie,
Mau nanya, kalo gak salah Ollie pernah nerbitin buku ya? Boleh tahu ga gimana prosesnya? Apakah nyari penerbit dulu yang kira2 mau nerbitin buku kita, atau nyelesaikan tulisan bukunya dulu? Kalo aku mau bikin buku (kroyokan sama temen2), penerbit mana yang enak dideketin? Trus proses editingnya gimana?
Thanks ya Lie.
Salam,
Endah
Dear Mbak Endah,
Benar Mbak Endah. Kebetulan dulu saya dapat beasiswa dari Gagas Media untuk sekolah menulis di Jakarta School. Setelah itu saya menulis naskah untuk dijadikan ‘tugas akhir’. Kebetulan, akhirnya naskah saya dipilih dari puluhan murid untuk diterbitkan. Hingga saat ini, 4 buku saya sudah diterbitkan. More to come
Kalo proses normalnya sih gini:
Soal buku keroyokan bisa juga. Riset aja penerbit yang biasa bikin buku keroyokan (mungkin bisa pelajari dulu di toko buku online Kutukutubuku.com). Setelah naskah disetujui, proses editingnya dari mereka kok
Good luck!

“Saya nggak butuh uang kamu!” Kernet bis 46 berteriak marah. Waduh. Kok bisa gini. Seumur-umur gue bahkan nggak tega merobek uang kertas seratus rupiah.
Ceritanya sebenernya lumayan klasik. Bis 46 memberlakukan tarif baru Rp 2.500. Salah satu penumpang wanita yang duduk di depan gue, merasa ia hanya naik bis dalam jarak dekat. Ia pun memberikan uang yang menurutnya pantas dengan jarak yang ia tempuh: Rp 2.000. Ternyata, kernet yang sensitif dengan kenaikan harga BBM dan kejaran setoran, tak membiarkan Rp 500-nya begitu saja. Terjadilah adu mulut yang sengit, yang diakhiri dengan insiden perobekan uang kertas senilai Rp 2.000.
Dalam kejadian ini, buntutnya bisa panjang:
1. Kernet yang marah bisa saja berbuat kasar saat itu juga (baik dengan tangan kosong ataupun dengan senjata kalo ada)
2. Pada saat si penumpang turun, bisa saja ia tidak diturunkan atau didorong keluar
3. Muka si penumpang akan ditandai dan kernet mengirimkan bala bantuan premannya untuk mencopet/merampok
Intinya kejadian-kejadian tragis akan menyelimuti, hanya karena Rp 500.
Singkat cerita, gue kuliahin dikit kernetnya tentang nilai uang yang dia robek itu. Trus gue bayarin ongkos penumpang di depan gue, dengan harapan kalau dia lihat orang lain menghargai uangnya maka ia sendiri juga akan menghargai uangnya. Mbak-mbak di depan gue mau bayar kembali uang gue, tapi gue say no. Trus mbak itu memberikan uang Rp 2.500 ke pengemis yang barusan naik.
Di Pancoran gue turun dan melanjutkan perjalanan dengan metro mini. Dari naik ampe turun, abangnya sama sekali tidak menagih duit ke gue. Padahal 604 gitu loh hauhhehe. Masa ga butuh duit. Kernetnya cuma duduk aja di depan sambil ngobrol-ngobrol dengan supir. Trus setelah gue menimbang, apakah ini rejeki gue atau bukan, akhirnya gue memutuskan untuk melemparkan uangnya ke si Kernet sebelum turun, dan dia pun spontan berdiri dengan wajah heran.
“Makasih ya, Bu!”
Haha. Jarang-jarang kan kernet bilang terimakasih. Gue aja takjub.
Anyway, you’re welcome.
Ps: Ini kedua kali gue naik bis dalam seminggu. First attempt, gue jatuh di 46 karena bisnya nggak berhenti sama sekali waktu gue naikin, padahal gue lagi pegang tas di tangan kanan, laptop di tangan kiri dan menggunakan high heels
Tapi di second attempt gue semakin terlatih.

Bulan Juni dibuka dengan kebahagiaan karena artikel tentang Kutukutubuku.com diulas di Majalah Prodo dan Tabloid Nova terbaru! Asik sekali
Majalah Prodo bulan ini membahas mainly tentang liburan (Katanya semua staf Majalah Prodo pada terbang ke Bali demi menyusun artikel tentang liburan di edisi ini! Pasti seru!). I will definitely need all the tips here karena Insya Allah Juli dah ada plan liburan ke pantai bareng temen-temen
Tabloid Nova sendiri menurunkan edisi khusus Wirausaha. Semua yang perlu diketahui untuk berwirausaha ada disini, beserta studi kasus, contoh-contoh sukses pengusaha yang sudah duluan nyemplung menjadi entrepreneur (termasuk Kutukutubuku.com dong? Amiin!)
So, tunggu apa lagi?! Beli Majalah Prodo dan Tabloid Nova, sekarang! ![]()
Semua bisnis yang selama ini saya jalankan, rata-rata mengandalkan promosi dari mulut ke mulut atau rekomendasi, terutama TukuSolution yang bergerak di bidang jasa web consulting. Client yang datang dari hasil rekomendasi ini tentu saja client potensial buat kita karena mereka sudah benar-benar niat menggunakan jasa kita. Dan tentu saja menghasilkan uang lebih cepat dari pada client biasa yang mungkin perlu membandingkan dan meninmbang-nimbang kita dengan vendor lain.
Tapi bagaimana caranya mendapatkan rekomendasi itu? Berikut 5 tips mendapatkan rekomendasi berdasarkan pengalaman saya dengan TukuSolution:
Semoga sukses!