It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
Masih tentang Flickr dan Flickrship, beberapa waktu yang lalu gue ketemu Pak Bhakti. Teman Flickr dari Amsterdam. Sosoknya unik dengan kaca mata bulat yang menjadi ciri khasnya. Beliau datang siang tadi ke kantor kutu. Melihat-lihat sekeliling sebelum kita makan siang di Mamink Daeng Tata bareng Chandra.

Selama di jalan, Pak Bhakti banyak cerita hal yang menarik…
Ok Pak Bhakti sampai ketemu lagi lain waktu yaaa…! Dan buat yang lain jangan lupa, warnai hidupmu dengan Flickr!
I Flickr, Therefore I am.
Semua pasti pernah dengar tentang website tempat sharing foto yang telah berkembang menjadi sebuah ‘keluarga’ besar dari para fotografer, fotoblogger dan orang-orang narsis. Selamat datang di Flickr!
Gue mulai go Pro sekitar bulan September. Saat itu mau bagi-bagi foto perjalanan sepulang liburan dan bingung karena Flickr ngebatasin upload gue. Well, ya sudah. $24 per tahun it is. Dan gue menikmati setiap detik setelah gue menjadi Pro.
Menjadi Pro berarti menggunakan fasilitas Flickr tanpa batas. Unlimited. Jadi, puas-puasin deh mengeksplornya.
Pertanyaannya… WHY FLICKR?
More on what can we do with Flickr
Read interview with Flickr Co-Founder
Ada yang mau nambahin?

My brother is one good example of how staying focus will ‘get you there’.
I knew it from the very beginning (I guess it’s from his Junior High era), that he’s into computer games (or console games) a lot. And because of that passion in games, he make a goal that someday he will create a game of his own.
Then he started to swim in Japanese culture (as they’re the most productive game maker in the world), enroll in one of famous IT universities in Indonesia (and doing good at 3.8 to 4.0 GPA), join the Nippon Club, going to games seminars, join the gamers community, and then making a game to finish his college (after 3,5 years studying).
My brother and team, finally finished Quasar, the team based strategy online game. And I’m very proud to hold the game’s CD myself.
A goal, really is, a dream with a deadline.
So, what’s your goal?

Asyik, bokap dan nyokap gue udah pulang. Seminggu kemarin gue di Surabaya jemput mereka. Insya Allah menjadi Haji Mabrur, Amin. Secara penampilan bokap gue udah mendukung banget LOL.
Seperti biasa, pulang dari Haji identik dengan banyak oleh-oleh. Harusnya gue sebutin satu-satu dan fotoin satu-satu for the sake of to-buy-list nantinya tapi karena too overwhelming, ya udah gue pilih aja tiga oleh-oleh favorite dari ortu.
Pertama, lipstick arab yang warna hijau. Pertama I’m not sure ini gimana resultnya. Terus gue pake, kesan pertama kayak lip gloss rasa kurma. Bening gitu. Trus gue pergi jalan-jalan keluar, dan pulang-pulang bibir gue udah merahhhh kayak abis minum fanta terus kejedot pintu LOL. Pokoknya over saturated deh
Trus oleh-oleh kedua dan ketiga adalah gelang dan cincin emas. Gue pengen ngerasain jadi saudagar Arab. But pas mau dipake di Jakarta, nyokap komentar, “Aduh jangan dipake deh, bahaya!”. LOH.

Gue selalu tertarik dengan cerita orang-orang selama naik haji. Nyokap sih nggak mengalami hal tertentu yang menarik. Tapi bokap gue yang badan dan perutnya biasanya sangat rewel, selama di Mekkah nggak ada masalah sama sekali. Kata bokap sih kudu sholat Hajat dulu dan minta banget dilancarkan semua prosesnya.
Trus ada hal menarik lagi. Pas mau pulang ke Jakarta dari Surabaya, bagasi kita over limit. Jadi kudu bayar lebihnya. Tapi ada bapak-bapak yang denger kita ngobrol soal itu and nawarin diri untuk ngegabungin tiketnya sama kita bertiga biar jatah bagasi bisa bertambah 20 kg. Trus dari antrian panjang pas check-in tiba-tiba kita disuruh langsung ke tempat kosong yang seharusnya buat check-in orang Banjarmasin.
Sebelumnya waktu berangkat dari Jakarta ke Surabaya, gue nolong orang dengan bagasinya yang over limit. Dan mungkin karena gue deket-deket orang yang baru pulang naik Haji, maka kebaikan yang kemarin bisa langsung dibalas dengan kebaikan. Hm, entahlah.
Yang jelas, be good to people. Listen to what they say. Respond with genuine interest. And voila, semua yang kita lakukan akan kembali lagi ke kita dengan cara yang misterius. Percaya?
Sebelumnya baca:Part I
South East Asia Trip 2007
Part II South East Asia Trip: Phuket
Insiden Prank Call Phi Phi Islands
Gue baru selesai mandi dan lagi sisiran pas Mery nelepon Angel yang nginep di lantai 2 hotel Andaman Resort, Phuket. Dia mau nanya Angel en Kitin dah siap belum soalnya gue dan Mery mau ke bawah buat jemput mereka. Kita memang lagi nunggu orang travel jemput kita untuk tour hari ini ke Phi Phi Islands.
“Sawadeeka (selamat pagi)… wasweswus Phi Phi Island aa… Kapunkaaa (makasih)…,” si Mery nyerocos nggak jelas menggunakan bahasa Thailandnya yang minim (Cuma bisa 2 kata) di telepon. Kayaknya dia mau ngerjain Angel dengan pura-pura jadi orang travel. Trus telepon ditutup dan Merry ngakak sambil guling-gulingan di tempat tidur.
Oalahmakjang… ternyata si Angel yang polos benar-benar mengira Mery itu orang dari travel agent. Gue juga jadi ikut ketawa guling-gulingan. Tiba-tiba telepon berdering. Gue yang angkat.
“Halo, Ol! BURUAN ke bawah! Orang travelnya dah datang!! Gue nggak tau deh dia ngomong apa, ngomongnya wasweswos gitu!!”
Dengan sakit perut karena menahan tawa, gue bilang sama Angel kita segera turun. Trus gue ngeliat ke arah Mery. Dan…
HAHAHAHAHA. Nggak tahan lagi deh. Kita guling-gulingan sampe nyusruk ke lantai kamar saking gelinya.
Turun tangga dari lantai 4 ke lantai dasar kita jalani dengan terseok-seok karena nggak bisa berhenti ketawa. Sampai di bawah Angel cerita dengan heboh tentang orang travel agent yang ngomong wasweswos.
Emang selama kita di hotel, semua karyawan hotel, kaga ada yang bisa bahasa Inggris dengan bae dan benar!! Masa pas ditanya perihal air kamar mandi yang mendadak keruh, “What’s wrong with the water?!” trus dijawab dia bakal segera bawain air minum di teko. Dikirain kita minta minum. Gubrak.
Back to Angel, setelah dia cerita gitu, gue menahan senyum sambil ngelirik ke Mery. Trus Mery niruin gaya bicaranya tadi, “Kayak gini ya? Sawadikaaa… Phi Phi Island aaa… kapunkaaa…”. Muka Angel berubah, dan Mery dengan sukses mendapat gamparan di pagi hari haha.
Pas kita lagi breakfast, baru dapet telepon asli dari travel agent. “Miss, where are you?”. Siappp!!
On The Way
Kita langsung naik mobilnya yang udah penuh ama turis lain. Perjalanan menuju semacam pelabuhan kecil berlangsung sekitar 45 menit. Ngantuk, jadi gue memutuskan tidur. Sampai di situ, langsung masuk ke kapal seperti feri merak – bakauheni. Di sekitar kita banyak turis dari Jepang, Cina dan Korea.

Welcome to Phi Phi Islands
Perjalanan di dalam kapal ternyata lebih melenakan lagi daripada di mobil dan kita pun tertidur. Begitu bangun langsung ngelihat keluar jendela. Wuaaah… laut yang bening berwarna tosca (biru kehijauan)… karang dengan tekstur garang… puluhan yacht yang ‘parkir’ di sekitar kami… kabut tipis yang menyelimuti… inikah kepulauan Phi Phi yang legendaris itu?

Tak lama kapal kami berhenti di sebuah spot yang bagus banget. Airnya jernih menampakkan ikan-ikan warna kuning yang udah nggak sabar ingin bermain dengan kami. Anak-anak langsung ganti baju untuk berenang. Cuaca buruk tapi nggak perduli. Semua pada nyebur. Kata Kitin kakinya digelitikin sama ikan! Wah asik banget kayaknya, tapi gue tetep di atas makan semangka aja sambil motret-motret mereka. Soalnya waktu itu gue nggak bawa burqini sih haha.


Setelah satu jam singgah di situ, kita mulai jalan lagi. Ngeliat ‘pulau’ tempat syuting ‘The Beach’-nya Leonardo Dicaprio (Doooh masa ngga mampir sih… sebel), ngeliat Goa Viking, dan masih banyak lagi.
Kita akhirnya merapat di dermaga sebuah pulau kecil. Rame banget di situ semua orang pada kelimpungan karena hujan tak kunjung reda. Bule-bule seliweran dengan jas hujan dan backpack besar. Welcome to Phi Phi Island! (Nggak sesuai bayangan gue sih akan liburan yang penuh matahari, dengan pasir putih yang berkilau diterpa sinar… hiks…).

Di Phi Phi Island kita bergegas bareng rombongan ke sebuah restoran. Di sini kita makan Tom Yam lagi dan berbagai makanan yang disajikan di meja. Kita berempat semeja ama pasangan dari Cina – Singapur. Nice talking to them. Er… nice gesturing to them.

Di restoran ini kita sempet bingung mau minta tisu karena semua orang nggak ngerti tisu. Baru setelah Mery kasi bahasa tubuh, mas-masnya ngeh, “Oh… napkin!” Yaaa itu dia haha. Yang geblek dari restoran ini adalah toiletnya yang jorok abis. In fact, kayaknya semua toilet disitu parah-parah.
Abis makan, kita dikasi waktu untuk jalan keliling pulau sendiri-sendiri. Pulau ini emang kecil dan jalan utamanya tuh hanya cukup dipake jalan kaki. Kita berempat langsung ambil kesempatan foto-foto. Di beberapa tempat masih ada tuh puing-puing bekas tsunami. Phi Phi Island memang salah satu tempat terparah yang terkena tsunami. Tapi di mereka udah lumayan berhasil membangun lagi daerahnya. Hotel-hotel mulai berdiri. Restaurant-restaurant tepi pantai pun udah bagus. Dan kalo dilihat dari banyaknya bule yang udah ‘feel at home’ di sini, kayaknya banyak tempat homestay juga yang laris manis. Ekonomi terbangun dengan baik. Mereka hampir pulih. Gue juga lihat mesjidnya di sini yang lumayan bagus dan baru. Phi Phi Island memang kawasan muslim.

Trus udah hampir waktunya, kita mulai jalan balik ke kapal. Gue dan Mery berjalan sambil berpelukan. Gue lihat sebuah pohon gede banget di pinggir jalan. Trus cerita sama Mery,
“Tau nggak Mer, pohon itu mirip pohon di desa Trunyan. Waktu itu pernah ada orang Prancis mimpi ngelihat pohon beringin dan gajah. Dia nulis novel deh tentang gajah yang berubah jadi pohon beringin. Trus dia pergi ke Jawa buat mempelajari Serat Chentini trus tau-tau di sebuah candi, dia malah ngelihat pohon beringin yang mirip banget bentuknya ama gajah. Judul novelnya Le Banyan Blanc,” gue nyerocos.
Trus begitu gue nyebutin ‘Banyan’, gue baru sadar kalo gue SALAH INGET pohon. Dan dari tadi Mery udah ngedengerin gue tanpa guna HAHAHA. Jadilah kita yang udah ‘mesra’ dengan berpelukan, jadi makin mesra karena ketawa-ketawa dan cubit-cubitan.
Nggak berapa lama kita disusul sama Angel dan Kitin dari belakang. “Sstt guys… kalian disangka lesbi tau ama bule-bule hahaha!” HAH. Spontan gue ngelepas pelukan gue. Gila tu orang-orang… nggak ngerti apa ini namanya persahabatan! Teman wanita in straight ways!
Mr. Good Seafood
Sampai di kapal, kita langsung menuju pelabuhan dan then straight to hotel. Habis mandi, kita keluar lagi buat makan. Kali ini kita memutuskan makan di Mr. Good Seafood yang letaknya dipinggir jalan. Tempatnya asyik banget.

Pas kita lagi nunggu Tom Yam kita keluar, pasangan yang duduk di sebelah kita tampak resah. Yang satu merengut dengan gaya tak sudi saat dielus tangannya oleh sang pacar yang khawatir. Kayaknya lagi ngambek.
Heh. Kenapa juga orang lain diperhatiin? Mind your own business ladies! Iya iya we know that… biasanya juga nggak peduli…! Masalahnya… yang duduk berdua, yang lagi marahan, yang lagi ngambek, dan yang lagi ngebujuk sambil ngelus tangan, itu semua LEKONG! Yang satu laki bule setengah abad, yang satunya lagi seperti anak laki asli Thai. Yang jelas susah nemuin pemandangan kayak gini di sembarang tempat di Jakarta hehe.
Thai Massage Not
Selesai makan, badan kita rasanya ancur. Gue pengen banget dipijet. Jadilah gue dan Mery masuk ke sebuah tempat pemijatan miliknya Mr. Good juga (bule baik banget pemilik resto dan panti pijat). Pas naik kita milih massage with oil yang turn out salah banget karena itu sama aja kayak pijet orang Jawa. Padahal pengen nyoba Traditional Thai Massage.
Gue sama Mery disuruh masuk ke sebuah kamar gelap yang disekat-sekat. Kita dikasih kasur tipis di lantai. Trus disuruh buka baju buat siap-siap dipijat. Pas lagi mau buka kancing, tiba-tiba, “Hehaho… it’s good…!” Suara gede ngebas seorang blue tepat di bilik sebelah kita membuat Mery langsung loncat memeluk gue hahaha. Syerem…! Makin serem lagi pas dipijet dengan pasrah, tiba-tiba satu rombongan yang sounds like pemain bola dari Inggris pada masuk ruangan dengan gaduh. Hualaaahh! (Biar udah disekat juga tetep rasanya insecure hehe)
Abis dipijet kita jalan tertatih-tatih menuju hotel.
“Mer, besok kita tour kemana lagi nih?”
“JAMES BOND ISLAND!”
(bersambung)