How to Write a Novel in 7 Days

Alhamdulillah buku terbaru saya, Mengaku Rasul, terbit juga. Novel ini adalah karya adaptasi based on script by Taufik Daraming Tahir dan Helfi Kardit. Basically novel ini mengajak kita semua untuk berhati-hati pada fenomena orang-orang yang mengaku rasul dan membuat aliran sesat. Beli Novel Mengaku Rasul di Kutukutubuku.com diskon 15% OFF!

Sekarang saya mau cerita soal proses pembuatannya. Seperti biasa, kalau ada order novel adaptasi seperti ini dari Gagas Media, maka deadline-nya selalu mepet hehehe. Waktu ditelepon sama Christian, dia kasih waktu 7 hari nggak kurang nggak lebih :D Targetnya, novel ini ditulis dalam 70 halaman A4. Dan jika ada yang terkaget-kaget dan bingung bagaimana melakukannya, saya akan beritahu tips and trick-nya.

  1. Buat Target
    Dalam 7 hari pengerjaan, sisihkan waktu 1 hari untuk personal editing. Jadi jika kita akan membuat 70 halaman dalam 6 hari, kita harus menyelesaikan kira-kira 12 halaman dalam sehari. Dan jika kita memutuskan untuk menulis 3 jam sehari, maka kita hanya perlu menulis 4 halaman per jam. Mudah kan? Stick to it. Kadang jika saya tidak bisa menulis 12 halaman pada hari itu, maka sisa yang kemarin akan saya tulis esoknya sehingga tetap on schedule.
  2. Baca Skenario dan Nonton Film-nya
    Setelah menghabiskan sekitar 1 jam untuk membaca skenario-nya dan tetap merasa ada yang kurang jelas, saya segera menghubungi Mas Salim dari Starvision, juga Mas Helfi sang sutradara. Esoknya, langsung nonton film Mengaku Rasul di kantor Starvision. Semua menjadi jelas dan inspirasi pun mengalir.
  3. Ciptakan suasana menulis yang kondusif
    Bersihkan meja. Tutup semua pintu dan jendela. Distractions seperti YM, Gtalk, Friendster, Facebook, sementara semuanya ditutup dulu ya. Reward yourself with them later, misalnya setelah sukses menulis 5 halaman tanpa berpaling. Trus minum dan makan lah yang cukup tapi tidak berlebihan agar gak ngantuk (pengalaman pribadi, ketiduran melulu saat menulis hauehhehe)
  4. Find a Personal Editor
    Pengalaman bekerjasama dengan Agus Salim saat editing buku Finding Soulmate For Mei, membuat gue percaya bahwa dia akan melakukan good job yang sama untuk novel Mengaku Rasul. Hari terakhir penulisan, buru-buru kirim naskah first draft sama dia. He found some of mistakes that I missed. Setelah itu, saya lanjut menulis final draft. Carilah personal editor yang Anda percaya. Perhatikan potensi orang di sekitar Anda. Pasti ada saja yang berpotensi sebagai editor (tukang kritik hahaha). Peran mereka penting untuk menjaga kualitas novel sebelum dikirimkan ke penerbit.
  5. Sabar
    Setelah final draft selesai dan novel telah dikirimkan ke penerbit, bersabarlah. Penerbit yang baik akan segera mengirimkan surat kontrak dan uang muka untuk novel Anda. Kemudian Anda tinggal menunggu ‘tanggal mainnya’ saja.

Selamat Menulis!!

Bonus: Kisah pembuatan novel Mengaku Rasul yang dibroadcast secara live via Twitter

Ada order novel seminggu jadi. Genre-nya rada menceng dari biasanya lagi. Bismillah aja. 04:19 PM May 14, 2008

8 halaman lagi untuk menutup hari 10:29 PM May 15, 2008

Ngemil Chiki Keju. Page 24 of 70. 02:31 PM May 16, 2008

Page 32 of 70. Guess it’s enough for today. 06:28 PM May 16, 2008

Page 57 of 70. Not bad. *Yawn* 03:08 PM May 18, 2008

First draft finished in page 65. Now it’s editing time. 12:12 PM May 19, 2008

On my way back home. Got loads of new perspectives and inspirations. 09:31 PM May 19, 2008

Finished editing. Now sending it to my personal editor. 10:46 AM May 20, 2008

Tiba-tiba naskahnya tidak bisa ditambah maupun dikurangi. It’s done and enough, mungkin. 10:57 AM May 20, 2008

Personal editor has given his feedback now my turn to write the final draft 05:09 PM May 20, 2008

Wrapped and sent to the publisher. Now, it’s DVD time. 07:28 PM May 20, 2008

Hari Ini, Saya…

10+1 Reasons Why I Love Plurk

If you like Twitter, you’ll LOVE Plurk! Plurk is from People + Lurk, basically stalking what our friends doing in form of a timeline. They also have Karma, the bigger the Karma, the more you can customize your Plurk Page.

plurk

If you think Plurk is wasting your time, think again! Here’s why I love Plurk:

  1. Easy MicroBlogging
    Sometimes you have no idea to write in your ‘real blog’. Maybe you wanted to whine about things or let people know what you eat for dinner and still get feedback from your friends immediately (lots of them gets the update as soon as you post). Plurk is the answer.
  2. They give you the idea
    Even if you don’t have anything to say, Plurk gives away the qualifier to tickle our fingers to type and Plurking. Some popular qualifier are ’says’ and ‘is’. It’s also available in Indonesian. Just click Plurk Privacy & Options and change your Plurk Language to ‘Indonesian’.
  3. You can share easily
    Share your videos on YouTube, Photos on Photobucket and Flickr, Image from Imageshacks, easily by using the qualifier ‘shares‘ followed by the link of the page you wanted to share
  4. It’s Mobile
    You can Plurk anywhere using your mobile phone.
  5. You can use it for research
    Either you confuse what to eat for lunch or some more serious research such as customer behavior research, you can do it easily on Plurk.
  6. You can announce things
    So you just write a new post on your blog and had the urge to announce it to the world, just Plurk it! I make some announcements sometimes.
  7. They have widget for your blog
    Check out my Plurk widget at the right side of my blog. You can also have it on your Plurk profile > edit > under the widget tab
  8. You can stick with Twitter
    If you can’t decide what to choose, Twitter or Plurk, you still can post to both at once by signing up at Ping.fm
  9. You can Plurk from Firefox
    Plurk integrate with Firefox to make it easier for you to post or track the latest updates. Gets the extension here.
  10. You can Plurk from your Desktop
    By using it as your wallpaper :D This is for seriously addicted Pleep (Plurk User)!
  11. It’s entertaining
    You could easily addicted to it and I mean, really really addicted. You can get motivated, laughing so hard for silly things they plurk, whining, share your lunch photos, etc.

Now, just sign up to Plurk will you?! This is my Plurk Profile by the way :) See you there!

Ask Ollie: Cara Nerbitin Buku

Saya memutuskan untuk membuka kategori baru di blog saya, judulnya ‘Ask Ollie’. Sejak lama, banyak dari pembaca blog yang mengirimkan email secara langsung untuk bertanya mengenai berbagai macam hal, mulai dari web developing, bisnis, menulis, marketing, cari kerja, dll. Akhirnya daripada saya menjawab suatu hal berulang kali, sekalian saja akan saya masukkan jawaban pertanyaan saya pada setiap post ‘Ask Ollie’. Bagi yang ingin ‘Ask Ollie’ juga, silahkan kontak saya. Semoga bermanfaat!

Hi Ollie,

Mau nanya, kalo gak salah Ollie pernah nerbitin buku ya? Boleh tahu ga gimana prosesnya? Apakah nyari penerbit dulu yang kira2 mau nerbitin buku kita, atau nyelesaikan tulisan bukunya dulu? Kalo aku mau bikin buku (kroyokan sama temen2), penerbit mana yang enak dideketin? Trus proses editingnya gimana?

Thanks ya Lie.

Salam,

Endah

Dear Mbak Endah,

Benar Mbak Endah. Kebetulan dulu saya dapat beasiswa dari Gagas Media untuk sekolah menulis di Jakarta School. Setelah itu saya menulis naskah untuk dijadikan ‘tugas akhir’. Kebetulan, akhirnya naskah saya dipilih dari puluhan murid untuk diterbitkan. Hingga saat ini, 4 buku saya sudah diterbitkan. More to come :)

Kalo proses normalnya sih gini:

  1. Pelajari tren yang sedang ada di masyarakat. Kalo lagi tren buku muslim, berarti silahkan selesaikan naskah fiksi Anda dan nanti disetorkan ke penerbit-penerbit yang banyak nerbitin buku muslim seperti Mizan, Qultum Media, Republika, dll. (Untuk naskah non-fiksi bisa dikirimkan outline-nya dulu, tergantung kebijakan masing-masing penerbitan)
  2. Cari alamat dan nomer kontak penerbit tersebut kemudian hubungi editornya dan tawarkan naskah kita
  3. Kirim naskah hardcopy + data diri Anda ditujukan ke editor tersebut. Kalau bisa sudah termasuk endorsement dari orang-orang yang telah membaca naskah Anda sebelumnya
  4. Hubungi editor itu kembali untuk memastikan naskah kita telah sampai di tangannya
  5. Tunggu maksimal 3 bulan untuk dapat jawabannya
  6. Terus menulis buku lainnya :)

Soal buku keroyokan bisa juga. Riset aja penerbit yang biasa bikin buku keroyokan (mungkin bisa pelajari dulu di toko buku online Kutukutubuku.com). Setelah naskah disetujui, proses editingnya dari mereka kok :)

Good luck!

Antara Bis, Duit, dan BBM

“KREK!” Dua lembaran uang seribuan dirobek di depan mata gue.

“Saya nggak butuh uang kamu!” Kernet bis 46 berteriak marah. Waduh. Kok bisa gini. Seumur-umur gue bahkan nggak tega merobek uang kertas seratus rupiah.

Ceritanya sebenernya lumayan klasik. Bis 46 memberlakukan tarif baru Rp 2.500. Salah satu penumpang wanita yang duduk di depan gue, merasa ia hanya naik bis dalam jarak dekat. Ia pun memberikan uang yang menurutnya pantas dengan jarak yang ia tempuh: Rp 2.000. Ternyata, kernet yang sensitif dengan kenaikan harga BBM dan kejaran setoran, tak membiarkan Rp 500-nya begitu saja. Terjadilah adu mulut yang sengit, yang diakhiri dengan insiden perobekan uang kertas senilai Rp 2.000.

Dalam kejadian ini, buntutnya bisa panjang:
1. Kernet yang marah bisa saja berbuat kasar saat itu juga (baik dengan tangan kosong ataupun dengan senjata kalo ada)
2. Pada saat si penumpang turun, bisa saja ia tidak diturunkan atau didorong keluar
3. Muka si penumpang akan ditandai dan kernet mengirimkan bala bantuan premannya untuk mencopet/merampok

Intinya kejadian-kejadian tragis akan menyelimuti, hanya karena Rp 500.

Singkat cerita, gue kuliahin dikit kernetnya tentang nilai uang yang dia robek itu. Trus gue bayarin ongkos penumpang di depan gue, dengan harapan kalau dia lihat orang lain menghargai uangnya maka ia sendiri juga akan menghargai uangnya. Mbak-mbak di depan gue mau bayar kembali uang gue, tapi gue say no. Trus mbak itu memberikan uang Rp 2.500 ke pengemis yang barusan naik.

Di Pancoran gue turun dan melanjutkan perjalanan dengan metro mini. Dari naik ampe turun, abangnya sama sekali tidak menagih duit ke gue. Padahal 604 gitu loh hauhhehe. Masa ga butuh duit. Kernetnya cuma duduk aja di depan sambil ngobrol-ngobrol dengan supir. Trus setelah gue menimbang, apakah ini rejeki gue atau bukan, akhirnya gue memutuskan untuk melemparkan uangnya ke si Kernet sebelum turun, dan dia pun spontan berdiriĀ  dengan wajah heran.

“Makasih ya, Bu!”

Haha. Jarang-jarang kan kernet bilang terimakasih. Gue aja takjub.

Anyway, you’re welcome.

Ps: Ini kedua kali gue naik bis dalam seminggu. First attempt, gue jatuh di 46 karena bisnya nggak berhenti sama sekali waktu gue naikin, padahal gue lagi pegang tas di tangan kanan, laptop di tangan kiri dan menggunakan high heels :D Tapi di second attempt gue semakin terlatih.

Copyright © 2008 - Ollie’s Blog :: Read. Write. Blog.