It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
Duh! Dari tadi coba lanjutin nulis novel kok susah banget ya, nggak bisa fokus. Bentar-bentar ngecek email, Flickr, Mob Wars di Facebook, Twitter, trus ngantuk… hhh! Padahal kemarin bisa nulis enak banget di lobi hotel Le Meridien. Masa kudu pake suasana yang enak dulu sih? Susah dong kalo manja gini otak gue
Anyway, daripada setres mikirin writer’s block, akhirnya iseng-iseng bikin emoticon untuk blog di Wordpress.
1. Gambar emoticonnya di Macromedia Flash. Jadinya seperti ini:
![]()
2. Potong-potong dan disimpan sebagai Gif dengan Alpha Transparency pake Macromedia Fireworks.
3. Download plug-in Custom Smilies
4. Upload file dan Activate
5. Masukkan file-file smilies kita ke wp-includes/images/smilies
6. Di admin Wordpress, masuk ke Manage > Smilies. Tentuin apa yang harus kita ketik untuk memunculkan smilies
7. Write Post dan gunakan smilies seperti biasa
8. Selesai.
Maaf kalo ngga jelas
Yuk, ah. Mau nonton America’s Next Top Model dulu ya (loh kok makin nggak produktip
). Happy holiday! ![]()

photo credit: robertnelson
I’m working on a very important user guide, and somehow use one of Microsoft Word feature of changing the ‘—’ to become a horizontal line. I like it. Until, the time when I supposed to remove the line. It’s one confusing hell. I just can’t remove it and took 15 minutes of my precious-user-guide-time just to find a way to get rid of it.
So finally, I got the answer. Just put the cursor on the paragraph where the line stay and press Ctrl + Q to clear the format hehe :P
Okay, back to work!!

Dulu gue suka heran, KOK BISA ya, seorang temen gue membawa anaknya yang masih balita ke Bandung sendirian tanpa babysitter? (Just her and her husband).
Apa susahnya? Gue juga bisa!
Entar dulu. Anaknya 4 orang. Yang paling gede umur 5 tahun, kemudian 4 tahun, kemudian 3 tahun dan satu lagi masih baby. (Kira-kira gitu lah gue juga nggak inget umurnya hehe pokoknya masih kecil aja!). Yang kebayang di gue, anak-anak tuh, kan pastinya banyak tantrum, teriak-teriak, nggak bisa diem (apalagi di mobil selama beberapa jam), gimana caranya gitu loh dia melakukannya???
Ternyata dia bilang, “Anak-anak gue anteng kok!”
Nah, ini lebih gila lagi. Gue makin nggak mengerti. Yang gue tau dia menerapkan suatu pola pengasuhan yang bagus banget dan dijadikan ‘the secret’ oleh dia dan suami.
Trus, akhirnya… 4 tahun kemudian… pas nonton Nanny 911 di Metro TV (Jam 16.00 tiap Sabtu dan Minggu), gue jadi mengerti kira-kira apa yang mereka terapkan dulu pada anak-anaknya.
Jadi bagi yang belum tau, Nanny 911 adalah sebuah acara reality show tentang keluarga yang punya anak banyak dan anak-anaknya pada nakal-nakal dan nggak bisa diatur. Ini tentu ‘menguras’ orang tua secara emosi maupun fisik. Saat mereka dah nggak kuat itulah, mereka menghubungi Nanny 911
Di Markas Nanny, nanti dipilih kira-kira Nanny mana yang sesuai dengan karakter keluarga tersebut (berbeda tiap episode). Yang gue tonton baru Nanny Deb dan Nanny Stella. Dua-duanya tegas tapi juga loving Nanny. Dari mereka gue belajar:
Oke ini gue sok tau aja ya, secara gue baru calon ibu beranak 5 yang belum menikah hahaha
Tapi you know what, my tips will work so well in adult worlds… karena banyak banget orang dewasa yang masih bertingkah kayak anak kecil.
Setuju? :P
Hari ini gue dateng kepagian untuk meeting di client. Dan I make myself at home, by opening the locked room myself hahaha
Gosh, bahkan gue datang lebih pagi dari OB-nya
Default gue kalo janjian emang kalo nggak on time, ya lebih cepet. Kadang-kadang orang lain kan nggak seperti gue, jadi resikonya adalah menunggu lebih lama.
Anyway, hari sabtu kemaren belanja bareng family di Pacific Place. Ideal place to shop ya karena sepi dan bisa bebas coba-cobain baju. Tapi kok ya Charles & Keith teteup aja rame hehe. Inspired by Mardy’s style in Levi’s Jeans, gue juga jadi pengen beli Levi’s (latah). Akhirnya gue dapet juga jeans yang gue mau. Yang pinggangnya tinggi dan kakinya melebar. Tapi kok ya ukuran terbesar itu 30? Dipake ama gue ngepas banget. Apa-apaan ini. Gimana dengan plus sizes seperti Goldy?
Setelah belanja makan di Y&Y, enak
CObain deh Japanese Pizza dan Fish n Chips-nya. Recommended.

Hari minggu diajak adek gue ke acara Animonster Sound Aishiteru di Jacc. Because I’m a ‘yes girl’ in term of jalan-jalan, so, I said yes. Sampe sana, masi sepi. Tapi jadi leluasa foto-foto sama Cosplay-nya. Ini yang paling gue suka dari event Jepang gini. Cosplay-nya seru-seru banget. Lihat foto lengkapnya di Flickr gue
Oh ya, sekalian gue mau link harvesting nih…

Interview with Seputar Indonesia,
originally uploaded by Si Ollie.
Sebagai penulis dan pelaku bisnis, saya sudah diwawancara oleh banyak media. Baik media cetak, elektronik (radio dan televisi), internet maupun untuk keperluan riset/tugas/thesis seseorang. Dan selama ini saya selalu beranggapan betapa enaknya mereka yang make a living by asking somebody questions. You know, kayak Oprah, yang ngobrol-ngobrol di depan kamera dan jadi seleb wanita terkaya di Amerika. Tapi ternyata melakukan wawancara itu nggak mudah sama sekali!
Kesulitan itu saya rasakan ketika akan mewawancarai penulis untuk kolom Meet the Writer di Kutukutubuku.com. Perlu dipertimbangkan banget isi pertanyaan dan kira-kira nanti result yang didapatkan oleh pembaca itu kayak gimana. Kalo ngobrol nggak ada juntrungannya kan sama aja ngegosip.
Jadi wawancara itu sebenernya adalah ngobrol dengan tujuan, yang dengan hasil ngobrol itu, akan menjawab beberapa pertanyaan penting yang sebelumnya nggak ketahuan.
Terus gimana dong biar sukses mewawancarai orang?
Ya siap-siap dong…
Pertama, riset untuk cari bahan tentang topik atau tokoh yang akan kita wawancarai. Google akan banyak banget membantu dalam hal ini.
Kedua, fokus. Siapkan tema apa yang akan kita bicarain pada interview ini. Misal, kalo janjiannya mau ngobrol soal bisnis, ya jangan ntar tau-tau tanya soal kehidupan pribadinya. Kalo orang yang di-interview sifatnya tertutup kan nggak enak juga.
Ketiga, siapkan jadwal wawancara. Lebih baik hubungi dulu untuk janjian. Jangan langsung minta wawancara ditempat, unless dia adalah selebriti ya hehe. Wawancara face to face itu cara terbaik karena bisa sambil lihat gesture, cara bicara, dan pertanyaan juga bisa berkembang dari jawaban-jawaban yang diberikan. Kalau terpaksa bisa by phone dan kalo mentok bisa by email.
Keempat, tanyakan pertanyaan yang tepat. Buka wawancara dengan pertanyaan terbuka, alias bisa dijawab dengan panjang lebar instead of cuma ‘yes’ or ‘no’. Contoh, “Bagaimana Kutukutubuku.com pertama kali dibangun?”. Ini pertanyaan pertama yang udah ratusan kali gue jawab. But yet, lebih baik daripada, “Anda pemilik kutukutubuku kan?”. Hehehe. Lanjutkan dengan dua pertanyaan bersambung yang saling berkaitan, “Apa rencana Kutukutubuku.com ke depan dan bagaimana meraihnya?”. Kemudian tutup dengan pertanyaan, “Oke, apa ada hal lain yang ingin disampaikan regarding this topic?”
Kelima, REKAM wawancara itu. Saya menulis wawancara saya dengan Andrea Hirata di sebuah kertas. Akhirnya:
- Kertas tersebut ‘hilang’ selama 5 bulan sebelum saya temukan kembali
- Ketika saya temukan, saya tidak dapat membaca lagi tulisan saya sendiri
- I’m missing the point.
Dua wawancara terakhir yang saya lakukan (saya yang diwawancara) adalah dengan Nadine, mahasiswa sebuah universitas di Jerman yang meneliti soal blogger di Indonesia dan dengan Wulan Cs, mahasiswa Binus yang mendapatkan tugas untuk mewawancarai pengusaha sukses hehehehe
I think they’re doing it well. Bisa menjahit pertanyaan sebelumnya, dengan next questions. You know, bisa saja gue kasih tau, “Iya penjualan bulan pertama saya Rp 1 Milyar!”, dan pewawancara menanggapi dengan, “Oke, jadi Anda berbintang Gemini?” alias nggak nyambung. But nggak pernah ada kejadian kayak gini kok. They’re all doing a great job and now I want to share it with all of you
Selamat mewawancarai orang
Ps: I’m going to need this skill very soon haha. I need to hire book lovers. Ada yang mau saya wawancara? Tell me why should I interview you, and give your cv as well, to career@kutukutubuku.com. Thanks!