It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
Hari ini adalah hari lahir RA Kartini. Biasanya untuk memperingatinya, anak-anak sekolah sibuk memakai konde dan kebaya. Tapi tentu makna yang terkandung pada hari ini lebih dalam lagi.
Saya ingat waktu itu menemukan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, membacanya dan terkagum-kagum dengan pola pemikiran Kartini yang sudah sangat maju jika dibandingkan dengan kondisi pada saat itu.
Buku tersebut berisi kumpulan surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Belanda. Ada petikan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya (4 Oktober 1902), dimana ia ingin wanita mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. “
Alhamdulillah, sekarang wanita Indonesia telah mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Namun jaman sekarang, ada ‘hambatan’ baru bagi kaum wanita yang menghalanginya untuk bersama dan mendidik buah hatinya secara langsung. Rata-rata wanita sekarang bekerja di luar rumah, dan jika tinggal di kota besar seperti Jakarta, kadang harus berangkat saat anak-anak belum bangun dan pulang saat anak-anak sudah tidur kembali. Betapa mirisnya.
Di tengah fenomena itu, mulailah ibu-ibu muda berbondong-bondong mencari alternatif agar bisa selalu berdekatan dengan anaknya. Salah satu caranya adalah dengan menemukan peluang usaha di rumah.
Banyak email yang masuk ke saya, dengan sejuta pertanyaan tentang memulai bisnis dari Kartini-Kartini masa kini
Untuk mengakomodir keinginan itu dan sekaligus memperingati hari Kartini, Kutukutubuku.com bekerja sama dengan Transmedia Pustaka, mengadakan talk show di Asia Bistro, Grand ITC Permata Hijau, Unit Emerald No. 32, pada tanggal 26 April 2008 (Pukul 10.00 hingga 13.00 WIB) bertema, “Wanita dan Wirausaha“. Pembicaranya antara lain adalah pengusaha-pengusaha yang dibahas dalam buku “Panduan Lengkap Memulai dan Mengelola Usaha di Rumah“, termasuk Kutukutubuku.com dong
Ini event pertamanya Kutukutubuku.com, so, kita sangat bersemangat nih untuk sharing pengalaman kita
Jadi, bagi Anda yang:
Ini saat yang tepat untuk mendapat informasi, bertanya, dan mendapat masukan dari pengusaha yang udah terlebih dahulu nyemplung di dunia bisnis
DAFTAR sekarang dengan mengirim email ke Kutukutubuku.com. Untuk acara ini, siapkan Rp 50.000 yang akan ditukar dengan:
Dalam kesempatan ini akan ada launching BlogBrary 2008, bekerjasama dengan Kutukutubuku.com, berupaya menghadirkan perpustakaan-perpustakaan untuk anak Indonesia. Peserta talk show diharapkan membawa buku bekas yang layak dibaca untuk anak-anak usia sekolah hingga remaja. Yuk kita ikut serta mencerdaskan anak Indonesia!
Ok, buruan DAFTAR sekarang ya! Tempat terbatas banget, cuma available untuk 25 orang! Kalo kurang jelas, bisa telepon ke HOTLINE 081519922250 atau 021-7981283! See you @ the event! ![]()
Iya akhirnya dibuka juga blokiran untuk YouTube, Multiply, dll. Lebih cepat dari dugaan gue. Dan itu bagus! Ini kemajuan ya, berarti ‘aspirasi’ rakyat udah mulai didengarkan
Beberapa hari yang lalu gue, Angel, Eel dan Henny diundang launching buku ‘Beauty For Killing‘ karya Fradhyt Fahrenheit, Penerbit FoU, di Neo Vanity Cafe & Lounge, Menara Standard Chartered.
Pas berangkat, kita naik taksi biru yang sopirnya sok tau banget and ngeluh ini itu, lupa catet nomer taksinya, dan ternyata dia udah dengan sukses turunin kita di Wisma Standard Chartered. Which is totally wrong. Dan kita harus jalan nyebrang melewati 3 gedung, di jalanan bechek meskipun banyak ojhek, tapi tetep aja caphek. Hehe
Dari kantor sudah lapar banget, jalan jauh tambah lapar.
Pas sampai di gedung Menara Standard Chartered, ada satpam yang sok tau pula. Ngasi tau kita jalan yang salah menuju Neo Vanity Cafe. Akhirnya kita kembali jalan dengan ngomel-ngomel. Akhirnya dengan penuh perjuangan panjang, kita tiba juga di tempat acara.

Acara dimulai dengan ngaret 1 jam. Tambah lapar. MC, Rieke Dyah Pitaloka memulai acara dengan melakukan kesalahan. She mistakenly mengira judul bukunya adalah Neo padahal itu nama restorannya hehe. Ya, soalnya memang logo Neo-nya yang gede banget, bahkan judul bukunya nggak keliatan. Dalam diskusi, novel ini menurut Fradhyt salah satu tujuannya adalah untuk mengedukasi kalangan atas, agar mau membaca buku Indonesia. Isi novelnya pun tak jauh dari lifestyle yang sangat high class. Cewek biasanya suka sekali yang seperti ini. Selain Rieke, selebriti yang hadir antara lain Izabel Jahja sebagai model cover buku, Agus sebagai fotografer, dan bos Sido Muncul juga hadir.
Eel bertanya pada kesempatan tanya jawab, dan gue ambil gambarnya sambil mencomot snack yang diberikan. Snack high class mengalir tiada henti, tapi gue nggak kenyang-kenyang.
Mbak Putri dari majalah Muscle pun bilang kalau gue ‘kuat makan’. Yang jelas, kepala gue sakit.
Acara pun selesai dan kita meninggalkan tempat acara. Sampai rumah, makan ikan plus nasi putih panas. Nikmat. Ternyata makanan low class yang paling cocok untuk perut gue hehe.
Thanks untuk Joe, penerbit FoU, atas undangannya. Oh ya, bagi yang belum tahu, ada quiz berhadiah 10 buku Beauty For Killing dari FoU & Kutukutubuku.com. Buruan jawab pertanyaannya ya!
Anyway, sekarang badan gue sakit banget, entah gara-gara begadang nonton Video Ellen DeGeneres Show tadi malam, ataukah karena mendengar kabar kurang baik pagi ini. Gue terlalu naive karena gue pikir semua orang itu baik. Dan ternyata itu nggak benar. The truth itu memang pasti nggak enak didengar atau dirasakan. Sigh.
Btw lagi, gue beli microwave baru dan sukses bikin telur ceplok yang cantik dan pizza-4-menit-jadi. Can’t wait to ‘cook’ more
Kata Eel gue harus nonton acara Gula-Gula. Dimana dan kapan ya?
Sekarang gue harus berusaha tidak sakit agar Senin bisa ikut meeting penting di Bandung. Gambatte!
Tiga event besar jadi satu, hasilnya? KAKI BENGKAK!
Tapi yang jelas seru sih. Keseruan dimulai from the minute I step into this blue taxi to go to Jakarta Convention Centre. Bapak sopir taksi, tiada angin apalagi hujan, tiba-tiba bertanya,
“Mbak suka telor? Suka makan mie? Suka makan ayam?”
Dan setelah bengong selama 3 detik gue menjawab, “Suka!”
Suara itu menggelegar lagi. “Jangan dimakan lagi mbak! Itu semua racun!”
Dimulailah speech tiada henti soal ayam negeri yang masuk ke Indonesia pada tahun 1971 dan mulai dari situ bangsa Indonesia mengalami kemunduran. Mulai dari banyak penyakit, kemiskinan, kebodohan, dll. Itu semua gara-gara ayam negeri dan telornya, plus mie.
Dia mulai memberikan analogi yang menyamakan kita dengan ayam negeri. “Ayam kampung, begitu dilahirin langsung bisa jalan mbak! Ayam negeri mah lemes! Karena kita makannya yang kayak gitu, kita juga jadi lemes!”
Trus, “Mbak suka minum teh dalam kemasan? Jangan mbak, bikin sakit pinggang, encok, susah melahirkan! Mending minum putih biasa aja mbak, jangan pake es juga!”
Dan masih banyak lagi peringatannya yang nggak bisa gue list disini saking banyaknya hehe. Tapi yang jelas dia bilang ingin menyelamatkan rakyat Indonesia dari kebodohan. Dan gue meskipun cuek-cuek buah manggis, ternyata kata-kata dia ngaruh juga ke gue. Pas lunch gue minum Aqua (biasanya teh botol hehe) and milih makanan bukan ayam hehe. Hebat tu orang, somebody should hire him as a sales.
Bayar tiket masuk
Turun dari taksi, langsung bergegas mau masuk ke JCC. Tapi… kok ada loket ya?? Ternyata… kudu bayar goceng dulu kalo mau masuk. Jangan-jangan tahun depan tiket masuknya nambah 2x lipet. Hiy… serem.

Overclock Contest
Si Goldy datang untuk meliput Overclock Contest yang diikuti kembali oleh Jossy. Serem banget sih overclock itu. Luar biasa abusing computer ehehhe masa pake acara ‘masak-masakan’ juga sih.

Sholat Jumat
Pas gue datang suasana lengang, pokoknya nggak kayak lagi ada 3 pameran heboh. Ternyata emang lagi pada sholat Jumat. Jadi musik dikecilin dan laki-laki pada ‘menghilang’. Lumayan deh jadi bisa jumpalitan dari satu tempat ke tempat lain dengan leluasa. Oh ya, dari foto di bawah jadi keliatan ya batas antara dunia dan akhirat hehehe.

Photovoices
Di Focus 2008, ada tempat untuk Photo Seminar gitu. Salah satu yang menarik minat gue adalah seminar tentang konservasi alam dengan cara unik. Jadi National Geographic Society bekerjasama dengan WWF Indonesia membentuk Photo Voices. Photo Voices membagikan 50 kamera gratis kepada penduduk lokal Lamalera, Nusa Tenggara Timur, yang bisa mereka gunakan untuk memotret kehidupan sehari-hari untuk mempelajari kebiasaan dan budaya mereka, terutama dalam sangkutannya dengan penangkapan ikan paus yang mereka lakukan dari generasi ke generasi.

Foto di atas memperlihatkan salah satu penduduk asli Lamalera yang telah ikut berpartisipasi dalam program ini selama setahun. Program ini telah menghasilkan 17.000 foto dari penduduk asli setempat dan rencananya akan dibukukan bersama dengan cerita-cerita di balik foto tersebut. Brilliant concept!
Puas
Overall, puas banget jalan-jalan seharian dari jam 11 pagi sampai jam 8 malam hehe. Gue bisa liat orang break dance, ikut foto model, foto produk, nyobain card reader sanDisk gratis, denger sharing dari fotografer komersial, ngeliat foto-foto keren… and many more. Loh kok kebanyakan tentang foto? Ya memang gue tertariknya itu sih hehe. Mega Bazaar Computer nggak gitu menarik perhatian gue, wong I already have everything that I need right before the pameran dengan harga lebih tinggi. Tentu saja gue kesal dan malas liat-liat lagi hahaha.

Jadi nggak sabar deh nunggu pameran lagi tahun depan
For more picture of the exhibitions, please check out my Flickr.
“Yuk makan dulu!”
Sebuah suara merdu menyuruh saya untuk memakan nasi goreng yang telah mengepul di depan kami. Saya sedang duduk di sebuah ruang makan nyaman bersama dengan 3 wanita cantik berbeda generasi.
Sebuah raket merah penyetrum nyamuk diayunkan oleh wanita yang paling dewasa, “Banyak nyamuk!” Ucapnya senewen.
Saya tersenyum. Rasanya seperti di rumah sendiri. Padahal saya duduk di meja makan seorang legenda Indonesia. Saya sedang makan malam dengan Titiek Puspa! Dan kedua wanita cantik lainnya adalah Petty, sang anak dan Yayas, cucu perempuan tersayang.
The Miraculous Journey
“Mbak Ollie! Thank you for coming!” Salam ramah dari Mas Arif, wakil redaktur majalah Prodo, menggugah saya kembali ke tempat saya berdiri, setelah sempat mengingat kembali saat-saat istimewa dimana saya berkesempatan makan malam bersama keluarga sang legenda beberapa waktu yang lalu.
Senin, tanggal 10 Maret 2008, saya diundang oleh Prodo untuk menghadiri acara launching buku biografi Titiek Puspa berjudul A Legendary Diva yang ditulis oleh Editor in Chief Majalah Prodo, Alberthiene Endah. Thank you very much for having me

Kesan yang saya dapat begitu memasuki tempat acara adalah, ini semua, Titiek Puspa banget. Semua terlihat glamour, elegan, fresh dan purple
She loves purple. Even her book cover using the color purple!
Saya datang dengan mama, just thought that this event will suit her. Kita makan dan menonton selebriti yang seliweran lewat di depan mata. Sampai akhirnya diperbolehkan masuk ke tempat acara.
Meja-meja bundar diatur memenuhi ruangan. Saya bergegas ke sebuah meja no. 25 sesuai undangan. Saya mulai duduk di situ sambil membaca majalah Prodo dari goody bag yang diberikan. Tiba-tiba seseorang mengambil tempat di sebelah mama. Ia tersenyum ramah pada kami. Itu Udjo dari Project Pop.
Seorang bapak juga datang ke meja kami dan duduk di sebelah saya. Ia langsung bercerita panjang tentang perjalanannya dari Bandung ke Jakarta yang sangat challenging karena hujan lebat. Tiba-tiba kita semua seperti teman lama. Oh, by the way, bapak itu adalah sutradara senior Slamet Rahardjo. Dan gimana rasanya duduk semeja sama selebriti-selebriti? Priceless
The Book Launching
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya acara dimulai. Becky Tumewu tampil cantik malam itu dan membawakan acara dengan baik. Pak Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, membuka acara dengan susah payah karena sedang sakit dan suaranya habis. Kasihan juga ya. Tapi dengan kedatangannya itu menunjukkan bagaimana Titiek Puspa dihormati dan disayangi oleh semua kalangan. Termasuk saya yang sejak siang juga sudah dilanda migraine hebat tapi berusaha tetap datang ke acara (loh kok nyama-nyamain ama Gubernur hehe).
Setelah Pak Fauzi Bowo selesai membuka Acara, Pinkan Mambo muncul di panggung dan menyanyikan lagu Si Hitam. Seperti biasa, gayanya centil dan segar. ‘Loncat’ kesana kemari kayak bola bekel. Lincah banget. Performance dilanjutkan oleh Acil Bimbo. Duh suaranya merdu sekali menyanyikan Sendiri dan Adinda.
Prosesi peluncuran bukunya sendiri dimulai dengan gendang yang dipukul bersahut-sahutan. Kemudian dalam gerakan slow motion, sebuah layar yang dibentuk seukuran buku raksasa keluar dari balik layar. Ternyata, bukunya benar-benar ‘diluncurkan’ dalam arti sebenarnya
Great concept
Mbak Alberthiene Endah memaparkan sebagian isi buku. Kami memandangi slideshow yang bergantian menampilkan foto-foto Titiek Puspa semasa muda hingga saat ini. Saya teliti wajah muda penuh semangat di wajah Titiek Puspa dan saya lihat wajahnya sekarang. Tidak banyak berubah, semangat, jiwa muda dan wajah cantik itu masih disitu. Lengkap dengan wisdom dan keikhlasan dalam menempuh hidup, yang semakin terpancar. Eyang Titiek Puspa memang istimewa sekali.

Tak lama, sang legenda keluar untuk menyambut tamu-tamunya dengan menyanyikan lagu Chandra Buana. She looks great in her gown. Selesai nyanyi, Titiek Puspa langsung menyapa tamu-tamunya dengan gayanya yang kocak dan segar. Benar-benar entertainer sejati.
Kejutan
Di daftar acara tidak ada wajah atau nama dari bapak yang satu ini. Titiek Puspa memanggilnya “Dik”. Dan hampir semua orang tertawa mendengarnya. Kenapa? Karena yang dipanggil “Dik” adalah tak lain dan tak bukan adalah Jenderal Wiranto. Tak disangka, “Dik” Wiranto mulai melafalkan sajak dari Kahlil Gibran tentang cinta. Itu nggak pake teks lagi alias dihapal. Ya ampun. Bingung deh. Kok bisa gitu ya hehehe. Nggak nyangka aja.

Yang tambah bikin shock adalah pas Pak Wiranto mulai menyanyikan lagu Cinta, disertai background bunga-bunga berbentuk hati di belakangnya. Awalnya shock karena nggak percaya. Yang kedua shock karena, OMG, suaranya Pak Wiranto itu bagus banget. Applause paling kenceng of the night adalah pas performance-nya Pak Wiranto malah. Benar-benar nice surprise
Bing
Grace Simon muncul dipanggung dan menyanyikan lagu Bimbi yang sangat terkenal itu. Sedikit kesalahan teknis terjadi saat microphone milik Grace tidak mengeluarkan suara. Ini adalah mimpi buruk setiap penyanyi. Untungnya segera ada yang mengganti microphone-nya, dan Grace pun menyanyi kembali seperti tidak ada yang terjadi. Salut deh. Kalo ini terjadi sama penyanyi pemula, mungkin udah pingsan hehe.
Setelah lagu Bimbi selesai, Titiek Puspa keluar lagi ke panggung dan berduet dengan Grace untuk menyanyikan lagu Bing.

Lagu Bing yang sangat mengharukan ini dibuat saat Almarhum Bing Slamet yang bersahabat dengan Titiek Puspa meninggal dunia. Di sela airmata dan kesedihan yang tak tertahankan, Titiek Puspa menuliskan ratapan hatinya ke sebuah disposal bag di dalam pesawat. Lirik dan melodi lagu Bing pun jadi saat itu juga. Penuh penghayatan dan kesedihan yang menyayat hati.
Penghujung Malam
Vina Panduwinata dan Titi Dj malam itu pun berhasil memukau penonton. Masing-masing menyanyikan lagu Cinta Putih dan Gadis.
Acara diakhiri dengan penampilan dari 3 T, Titi Kamal, Titi Dj dan Titiek Puspa. Mereka menyanyikan lagu Dansa Yuk Dansa.
“Titi Kamal kan nggak pernah nyanyi?” Bisik mama.
“Mendadak dangdut, ma!” Dan itu cukup untuk mengingatkan mama bahwa Titi Kamal memang pernah menyanyi.
Anyway, saya nggak akan pernah bisa menilai Titi Kamal dengan fair, karena cemburu dengan wajah cantiknya dan tentu saja iri dengan pacarnya yang luar biasa ganteng, Christian Sugiono. (hehe)
Pulang

Acara berakhir dengan keluarnya seluruh artis pada malam itu ke panggung. Saya bergegas keluar karena malam sudah semakin larut. Di pintu keluar, dibagikan buku biografi Titiek Puspa “A Legendary Diva” dengan sampul Hard Cover.
Congratulations untuk Eyang Titiek Puspa dan Mbak Alberthiene Endah. Terimakasih untuk acara peluncuran buku yang spektakuler dan buku yang luar biasa ini.
Saya belum baca bukunya, tapi saya tahu, saya akan menikmati dan belajar banyak dari setiap halaman buku ini.
Anda juga berminat belajar dari Titiek Puspa? Pre-order bukunya, hanya di Kutukutubuku.com ![]()
Hari ini gue dateng kepagian untuk meeting di client. Dan I make myself at home, by opening the locked room myself hahaha
Gosh, bahkan gue datang lebih pagi dari OB-nya
Default gue kalo janjian emang kalo nggak on time, ya lebih cepet. Kadang-kadang orang lain kan nggak seperti gue, jadi resikonya adalah menunggu lebih lama.
Anyway, hari sabtu kemaren belanja bareng family di Pacific Place. Ideal place to shop ya karena sepi dan bisa bebas coba-cobain baju. Tapi kok ya Charles & Keith teteup aja rame hehe. Inspired by Mardy’s style in Levi’s Jeans, gue juga jadi pengen beli Levi’s (latah). Akhirnya gue dapet juga jeans yang gue mau. Yang pinggangnya tinggi dan kakinya melebar. Tapi kok ya ukuran terbesar itu 30? Dipake ama gue ngepas banget. Apa-apaan ini. Gimana dengan plus sizes seperti Goldy?
Setelah belanja makan di Y&Y, enak
CObain deh Japanese Pizza dan Fish n Chips-nya. Recommended.

Hari minggu diajak adek gue ke acara Animonster Sound Aishiteru di Jacc. Because I’m a ‘yes girl’ in term of jalan-jalan, so, I said yes. Sampe sana, masi sepi. Tapi jadi leluasa foto-foto sama Cosplay-nya. Ini yang paling gue suka dari event Jepang gini. Cosplay-nya seru-seru banget. Lihat foto lengkapnya di Flickr gue
Oh ya, sekalian gue mau link harvesting nih…