Ollie's Journal

Insights on books, writing, startups, and lifestyle in between

Cyber Bullying

27

On Sunday one of my best friends, a well-known author, Mbak Alberthiene Endah (AE)  decided that she’s deactivating her twitter account @alberthieneEyou can read the well written chronology in @alderina‘s blog. I really wanted to express something about this, but 140 characters can’t contain it and I find myself wordless. So now, I’m trying to write something about it from my personal point of view and how I see it from the perspective of a close friend.

At midnight after closing her account, Mbak AE called me. She said that she can’t take it anymore. She’s referring to twitter and all the harsh messages she get. I feel personally conflicted that day. I know that it’s her decision that I need to respect. But in the other side, I should’ve tried to explain better about the twitvironment and its behavior before she’s closing her account.

“Maybe twitter is not for me,” she said. I know AE for some times and I know that she’s very kind and have a tender heart. She didn’t meant what she said the way it was on twitter. But the lack of emotion and unable to recognize tone of the voice in twitter text make the message she sent sound extremely cold and straightforward.

I follow everything that happened and I read harsh messages appointed to her that are already going out of context. And we’re not talking about just one person. People assumed there’s a person who make her quit twitter. Hint: only people that means a lot to your heart, can hurt you.

People argue whether it can be called a bully. For me, when someone feel bullied, then it’s a bully. We don’t need much definition of it.

Some said it’s too much drama. Well, did we really expect people’s personality to be exactly the same like us?

Some talking about how it took 3 hours for her to close her account. In great respect to her, she didn’t know much about technology but she’s willing to try to use it. She need other person (@amrazing) to do the deactivation and it took so long maybe because he was reluctant to do that. Why? Because AE tweets great stuff about life and love. And she helped a lot of people (emotionally) with her tweet.

This is the reason why I write this post. AE tweets are helping hands for every followers (especially young people) who emotionally needs it the most. Those who already been in dark moments in life would understand how positive words, especially created by a great writer like her, would really really help to hold on. Now that she’s not there, many of her followers feel a great loss. And I’m one of them.

“The Internet makes bullying more convenient and since the victim’s reaction remains unseen people who wouldn’t normally bully don’t take it as seriously.”

Let’s remember: there’s a real person on the other side of the line. Even though we can only see avatar and username, there’s a real man/woman and personality in that tiny piece of bio. Let’s agree to disagree. Be nice, as much as we can.

Update

Dear friends, I read all your comments and appreciate your point of view. To make it clear, I am not representing mbak AE or expressing her feelings. I am solely speaking my own mind and what I feel about this from my perspective, from what I saw. But words are limited and a lot of things I can felt  better than express in words. I am sorry if there’s something I said in the post that is not in-sync with you or maybe AE’s mind herself. Much love xo

email

Comments

comments

27 Comments

  1. Billy Koesoemadinata

    “The Internet makes bullying more convenient and since the victim’s reaction remains unseen people who wouldn’t normally bully don’t take it as seriously.” — kalimatnya juara banget..

    anyway, deactivate atau enggak, yang pasti itu hak dari mbak AE. karena benar, yang terbaca dan terlihat di twitter, belum tentu sama dengan apa yang jika disampaikan secara tatap muka dan berbicara secara langsung.

    [Reply]

    Reply
  2. Alderina

    Hai Mbak Ollie :D

    Terima kasih ya sudah memberikan link ke blog aku. Terus terang sebelumnya aku tidak tahu cerita di balik timeline, terima kasih banyak sudah menuliskan tentang sisi ini. Semoga orang dapat membaca kedua blog post ini :)

    [Reply]

    Reply
  3. Herman Saksono

    Ollie, I have to disagree with you if bullying is subjectively defined. :) Under this standard, anybody on the losing side of a debate can claim they are bullied, and gained instant sympathy.

    Actually there are some simple characteristics of bullying, that includes:
    – repeated over time
    – imbalance of power
    – causes pyschological depression for the victims, and some cases, poor health

    My deepest sympathy goes to those people who are bullied, in real life or through the internet. But Mbak AE’s case doesnt look like a bullying, but rather a PR spin by her supporters. :)

    [Reply]

    Reply
  4. memeth

    dalam dialog/diskusi/debat, ada tata cara sehingga diskusi bisa berlangsung sehat.
    jika menyimpang, bisa jadi karena ybs tidak memahami tata cara diskusi yang sehat.

    salah satu penyimpangan diskusi yg sehat adl, ad-hominem.
    penjelasan singkat ttg apa itu ad-hominem adl, shoot the messenger instead of the message.
    pertanyaannya, apakah ad-hominem adl bully? mnrt saya, tidak. krn utk bisa disebut bully, ada bbrp hal, spt definisi yg disebutkan herman di atas.

    nah, untuk mbak AE sendiri, jika saya mengamati, apakah dia sudah memenuhi tata cara diskusi yg sehat? (ga selalu ad hominem ya, tapi mengalihkan perhatian, menutup dialog walo dr pihak lawan sudah menyediakan ruang utk berdialog, dll).

    mnrt saya, dalam kasus AE ini, issue-nya adalah soal berdiskusi/berdebat yg sehat, BUKAN cyberbully.

    [Reply]

    Reply
  5. Sianly Oktavia Indra

    Makasyiih uda menulis dari sisi yang berbeda..
    Saya juga uda baca kronologinya dari Alderina’s blog..

    *Baik di dunia maya maupun di dunia nyata, setiap orang bebas untuk berpendapat. TAPI dia juga harus bisa mempertanggungjawabkan pendapatnya tersebut. Sebab mau tidak mau, pendapat seseorang akan berdampak bagi mereka yang mengetahuinya (bisa sekedar nambah pengetahuan, bisa tersinggung, bisa sedih, bisa senang, macem2 lah..)

    *Dalam kasus ini, kalo si AE bersuara tentang rezim Soeharto dan bermaksud menyinggung pemerintahan yang sekarang, bebas kok. (Saya ga suka Soeharto, juga ga suka SBY, tp saya fine2 aja dg statement pertama si AE)

    *Sah pula ketika si PS berkomentar: “You’ve lost so many respect at this point.”

    *Sampai di sana seharusnya berhenti saja sudah cukup. Karena baik AE maupun Putri (menurut saya) cukup adem dan santun.

    *Nah reply lanjutan dr AE ini yg menurut saya menylut dan menyolot.. hehehe –> “Gak pd bisa baca pesan di balik pesan re: pak Harto & bom” Entah AE lagi sumpek, stress ato apalah, tapi nggak seharusnya dia (terkesan) jutek begitu, lah wong Putri reply baik2 ke dia… Nah kalo mbak Ollie maupun mbak AE merasa jika tulisan ini jutek.. hummm yah masing2 orang beda2 sih ya… =)

    *Dapet jawaban begitu dr AE, Putri masih adem ayem nanggepinnya, dengan sopan… –> ” Arguing “Gak pd bisa baca pesan di balik pesan re: pak Harto & bom” sounds like you know this stuff better than us, mbak. Mohon penjelasannya :) ” “Hahahaha males. Pikir aja sendiri. Saya gak suka buang wkt utk respon twit yg gak nyambung”
    (Aduh biyuuuung, gak nyambung gimana toh mbak? siapa ya yang sebenernya gak nyambung?)
    Masih menurut saya, klo emang merasa twit dari Putri gak nyambung, dan AE males buang waktu, lah ya uda, ngapain kok dibales? Diemin aja toh, klo punya pikiran begitu..
    Kata2 ini yg menurut saya ketus.. Apalagi AE sbg penulis, harusnya lebih dapat mengontrol apakah kata2nya akan menimbulkan kesan pedas atau tidak..

    *Twit2 berikutnya seperti yang udah di-capture sis Popon, (menurut eike) semuanya menunjukkan Putri mampu berpendapat secara tenang, dewasa, dan sistematis pula. Sementara AE agak (maaf) childish dan ogah2an dan jutek dalam menanggapi twit dari Putri..
    Dan sampai sekarang saya nggak habis pikir, bagaimana AE yg (kata para follower) selalu menginspirasi dg tweet2nya yg sedap bisa sebegitu pahitnya.. Apakah cuman khilaf? Ato malah menunjukkan “aslinya”..
    Gak tau deh, tapi benar2 statement2 yang mengejutkan… dan mengecewakan..

    *Tiap orang memang punya batasan sendiri dalam segala hal. Termasuk batasan perasaan tabah dalam menerima hujatan2…
    Namun dalam kasus ini saya agak geli dengan AE yang (menurut saya.. maap banget..) dalam statement2 di kasus itu jutek marutek, tapi tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan secara lugas tentang pendapatnya, dan tidak memiliki hati yang lapang untuk menerima seabrek reply pedas dari tweeps.

    *Malah si AE jadi sedih dan menutup akun. (LOH?!) Tadi jutek banget, lah kok sekarang malah sedih?
    Kelihatan labil banget… =( mungkin AE lagi ada masalah ya? Tp tetep aja ga seharusnya begituuu…

    *Sangat disayangkan AE nutup akun.. karena dr tweet orang2 yg saya baca, tweet2 dr AE biasanya sangat menginspirasi dan digemari followernya yg puluhan ribu itu.
    Harusnya tidak perlu menutup akun, minta maaflah, dan biarkan amarah orang mereda.
    Tiap orang memang tak luput dari kesalahan, yang penting adalah PERBAIKAN DIRI, bukannya lari dari masalah.
    Dengan begini, AE juga belajar sesuatu, namun penggemar AE masih bisa menikmati tweet2nya. AE pun masih bisa “menebus” kesalahannya dg terus menginspirasi tweeps..

    #*Maaf kalo dari tadi saya ngomong “seharusnya” terus yah?
    Masalah ini kan uda lewat, yg lebih penting sebenernya, ayo bareng2 belajar dari kasus ini..

    #*Mari berpendapat secara bebas, namun sopan, dewasa, dan bertanggungjawab. Siapkan hati dan mental kita untuk menerima segala konseuensi dari pendapat kita.

    #*Setiap orang memang bebas memilih, namun alangkah baiknya dipertimbangkan, apakah itu pilihan yang baik? Apakah sudah tepat? Apakah itu pilihan yang membawa manfaat bagi orang banyak, atau hanya untuk kepentngan pribadi?

    #*Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, namun hanya menunda atau malah memberi ekor panjang terhadap masalah itu sendiri.

    #*Bahasa tulisan dapat menimbulkan berbagai macam kesan, sebab si pembaca memang tidak melihat ekspresi, sorot mata, dan mendengar nada kalimat si penulis. Maka ketika menulis, harus ekstra hati2, apakah kalimat itu terbaca jutek atau tidak..

    #*Saya sih gak peduli masalah AE dibilang Drama Queen lah, AE di-bully lah… Itu kan cuman komen2 tambahan, bukan masalah intinya..
    Namun mengingat AE punya sangat banyak follower, dan banyak menginspirasi orang, alangkah baiknya jika AE mau gabung lagi di twitterland.. =D
    Tweeps pasti akan lebih bisa menerima kehadiran AE.. sebab kelihatannya buanyaaaak bgt yg kangen twit inspiratifnya AE..

    Gitu aja deh dari saya.. Thanks Ollie uda mau share ya… =D
    Have a nice day all..!!

    [Reply]

    Reply
  6. Eva Tarida

    Hai, Mba Ollie. Nice writing :)

    To be honest, I’ve been through this also. I’m not a public figure, or a biography writer, I don’t have lots of followers like AE and Putri Sentanu.

    As I already said in Alderina’s Blog, Last year, my twit was responded by a football club fan-base account. I gave my opinion, and that football club fan-base account RTed it. With the big amount of followers that account has, guess what, lots of disagree people suddenly became my followers. I gained ca. 100 new followers and hundreds mentions in only 2 hours.
    Some twitted politely responding my tweet. Gave their opinion and asked why I wrote that tweet. Some started using harsh sentences. Some,started to abusing and harassing me with sentences when they noticed I am a woman. I was shocked also. I’m kind of easy going person. But receiving hundreds harsh tweet in only 2 hours, I was down also.
    I took a bit, and I decided to replied those “still sane” tweet, answered politely, ignored some super impolite tweet, and blocked those who already out of context by calling me a b**** and some kind of that. Then, I protected my twitter account for 1-2 weeks.
    They were all strangers! Even foreigner! You could imagine, I’ve been harassed and abused with sentences by some people I can’t even spell their name!
    (It was verbal abusing IMO instead of bullying)

    But, well, this is twitter. Even in real world, you have to face what you’ve done.
    Like what Sianly wrote above, IMO, it was AE response that started this thing.
    For a person who already inspired lots of people (as AE’s followers and admirers said), she should’ve known better. And as a biography writer, whose facing right face to face with people, and feel the empathy, AE should’ve could dealt better with this thing instead of threw answers to Putri Sentanu that way. (Imagine (note: Imagine) if Putri Sentanu were a very emotionally person, what would happened? :) )

    I wish, if AE really is this inspirational woman, she will come back again, and face this bravely, with I believe, her friends around her to support her :)

    Anw, thank you for making this post, even though IMO this post can’t be said as a cover both side post with Alderina’s. :)

    :)
    _ maaf kalau bahasanya nggak karuan :) _

    [Reply]

    Reply
  7. [H]Yudee

    jadi to ….

    daripada ditutup akunnya, mending direname aja jadi pepatahpenulis atau apa kek, yg bisa dibikin komersial aja sekalian ….

    hihihihi ………

    *efekinggrispaspasan*

    [Reply]

    Reply
  8. aisyah_h

    Let’s not taking side, shall we? :)
    Nice read, though. In my own perspective, IMHO, this is supposed to open people’s eyes of how people characteristics are diversed and what can we do about it is to appreciate it. Some people can’t take democracy against them and some people just don’t know how to use the democracy wisely.

    [Reply]

    Reply
  9. mikael

    ollie, do yrself a favor, read this and reconsider the gravity of alberthienes original statement. gratis kok. by john roosa: Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup dEtat in Indonesia http://t.co/fnO9VliZ

    [Reply]

    Reply
  10. Twitter

    Gini doank dibilang bullying.

    Padahal selama ini tweetnya berisi semangat dan agar sabar menghadapi respon negatif dari orang, agak kontradiktif dengan reaksinya terhadap masalah sendiri. Terkesan meremehkan orang juga dengan tweet yang SELALU bahagia dan menganggap orang lain banyak masalah.

    Jika bisa ngetweet opini, seharusnya bisa menerima opini orang lain dnan bisa berdiskusi dengan baik.

    Follower banyak belum tentu banyak penggemar baik, ada beberapa yang sengaja follow untuk menunggu momen kepeleset dan jadi bahan olokan.

    Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

    [Reply]

    Reply
  11. Icha

    Coba dilihat dari perspektif lain juga..

    Sebagai orang yang follower-nya banyak, yang sering nulis kalimat2 penyemangat (menurut follower-nya) dan sangat positif, seharusnya mbak AE lebih bisa menerima perbedaan pendapat. Belum lagi, awalnya beliau sendirilah yang membuat statement ‘berbahaya’ (mengutip istilah beliau).

    Anda sendiri yang mengatakan, twitter itu hanya bisa menampung 140 karakter. Kalimat2 bisa saja bermakna ganda. Statement mbak AE pun seperti itu ketika membicarakan Pak Harto. Mbak PS hanya berusaha mengklarifikasi, kan? Sampai tahap ini dia tidak salah.

    Masalah mulai berlarut2 ketika mbak AE menolak mengklarifikasi makna twit yang beliau tulis sendiri. Dengan dalih malas bicara politik lah, malas dengan respon orang yg nggak nyambung lah.. Kalau malas bicara politik, seharusnya dari awal tidak perlu menulis twit mengenai Pak Harto.

    Begitu kan kronologinya?

    Kalau Anda belum siap mengklarifikasi tulisan yang Anda buat sendiri, nggak usah menulis.

    Yang lebih saya sayangkan, keputusan mbak AE untuk menutup akun. Kenapa sampai harus menutup akun? Toh masalah bisa dibilang sudah selesai, sudah diklarifikasi juga. Saya membayangkan orang yang sanggup menulis twit yang begitu memotivasi banyak orang adalah orang yang kuat – tapi rasanya saya salah. Penutupan akun ini membuktikan bahwa beliau sendiri tidak bisa menjadi contoh atas apa yang beliau tulis selama ini.

    [Reply]

    Reply
  12. yenny

    Maaf mbak ollie, mungkin karena AE teman baik mbak ollie, jadinya mbak tidak bisa melihat dari helicopter view.

    Kalau public figure punya acoount twitter yang tidak diproteksi, berarti ia sudah siap mendapat respon dari followersnya.

    mengapa pada saat putri sentanu secara sopan bertanya apa maksud dari tweet tersebut, AE malah kehilangan kata2 dan tidak mau menjawab.

    Kalau memang malas, yah tidak perlu tweet dong. Kan tweet untuk dibaca semua followersnya.

    Nb: maaf saya tetap kagum kok sama mbak ollie, ini ditujukan untuk AE.

    [Reply]

    Reply
  13. text message coupons

    Hello There. I discovered your blog the usage of msn. That is a very smartly written article. I will be sure to bookmark it and return to read more of your helpful info. Thank you for the post. I will certainly return.

    [Reply]

    Reply
  14. Riccardo

    jessicaMay 1, 2010Yes that time must have felt so crazy, like you were coming to visit a bomb stheler after the big one had finally gone off. I can only thank you for coming back again and again and speaking truth again and again

    [Reply]

    Reply
  15. Alexey

    Oh Shana .this is sooo beautiful .I live in front of the Mediterranean sea ( in fact I can see the sea from my bed) your view is very deeirfnt but lovely and peaceful too.Lots of love,belen

    [Reply]

    Reply

So, what do you think ?