Personal,  Travel

Perjalanan Umroh ku (Catatan Pinggir)

Dua hari terakhir saya di Mekkah, sebelum pulang ke Indonesia, tamu bulanan saya datang tak diundang. Jadilah saya mendekam di kamar sambil membaca buku Naked Traveler 3 yang saya bawa dari Indonesia. Buku Trinity ini, menurut saya yang terbaik dari ketiga buku. I love it very much. Ceritanya makin komplit dan makin vulgar a la Trinity :)) Doh jadi kangen jalan bareng Miss T lagi!

Gara-gara buku itu saya jadi mau cerita light side story dari religious trip saya ke Madinah, Mekkah dan Jeddah.

Ini kunjungan pertama saya ke Arab. Yang pertama mencuri perhatian saya saat sampai di King Abdul Aziz (9 jam perjalanan Jakarta – Jeddah) adalah simbol negaranya yang bergambar 2 pedang beradu. Welehh… intimidating >.<

Kemudian yang saya perhatikan tentu jalanannya. Jalanan di sana lebar, sepi dari mobil dan kanan kirinya tandus dengan gunung-gunung berbatu tanpa tanaman hijau sedikitpun. Mungkin karena itu juga, gedung-gedung di Madinah semuanya seragam bentuknya, kotak, dengan jendela kecil dan berwarna cokelat. Makanya masuk ke Mesjid Nabawi dengan arsitektur yang luar biasa dan colorful benar-benar pemandangan menyejukkan. Melihat kegersangan itu, gambaran surga yang digambarkan al-Quran, taman hijau, dengan berbagai buah, sungai yang mengalir, itu semua Indonesia banget. Saya selama ini udah hidup di surga tapi take it for granted, tak menyadari dan lupa bersyukur.

Saya merasakan anomali (keanehan) saat berada di negara Islam, yang harusnya jauh lebih mengamalkan nilai-nilai Islam, tapi sebagai cewek saya malah takut dan canggung jalan sendirian. Mungkin karena wanita lokal nggak banyak (bahkan nggak ada) yang jalan sembarangan tanpa pendamping.

Soal cowok sendiri saya suka perhatikan diam-diam karena Mekkah dan Madinah adalah tempat ngumpulnya pria Muslim dari seluruh dunia, maka saya sempatkan untuk melirik (dikit). *sambil istighfar dan berseru pada diri sendiri: “Luruskan niat!” :)) Saya nggak tau persis orang mana aja yang wajahnya cakep-cakep, tapi yg jelas, pria berkulit putih, berhidung mancung, bibir merah, sedikit brewok halus, berbaju putih panjang dan baca Quran dengan khusyu’ itu gemesin! #ngikik :))

Ceweknya sendiri di sini nggak kalah cuantik. Ada anak kecil Arab umur 5 tahun. Dia duduk diem aja, ga pose macem-macem. Tapi luar biasa cantik. Alis melengkung sempurna dengan alami, nggak terlalu tipis nggak terlalu tebal. Matanya nggak usah ditanya, dengan tingkat ‘ke-belok-an’ yang tepat, warna mata yang sophisticated, serta bulu mata lentik yang bikin saya pengen cepat-cepat jepit bulu mata. Hidungnya mancung tipis dan bibirnya merah. Kulit putih dan rambut cokelat. And kebanyakan cewek-cewek sini modelnya kayak gini yang umurnya mudaan. Jadi biar pake cadar juga keliatan cakep.

Tapi kalo usia mereka udah beranjak ibu-ibu, ukuran tubuh langsung membesar signifikan. Saya nggak pernah lihat wanita oversize begitu banyak dalam satu ruangan sebelumnya. Oh ya, mengenai ukuran tubuh ini, saya sempat shock waktu pertama sholat Subuh di musholla kecil di jalan menuju Madinah. ¬†Begitu selesai sholat, saya kaget karena tiba-tiba udah ‘dikepung’ sama belasan perempuan tinggi besar berjubah hitam-hitam. Langsung feel intimidated banget. Mana mukanya serem-serem tanpa senyum >.< Tapi lama-lama biasa juga.

Mayoritas cewek di sini adalah cewek-cewek yang matanya lebar, jadi saya yang bermata sipit saat eyeliner luntur ini, cukup menarik perhatian. Salah satunya saat di Masjidil Haram, ada cewek Iraq yang niat banget lari ngejar saya, hanya untuk nanya dengan bahasa Inggris terpatah-patah: “Are you Japanese?” gubrak. Pengennya sih bilang iya haha… Tapi saya harus mengecewakannya dan bilang kalau saya adalah satu dari ratusan ribu jamaah dari Indonesia: “No. I’m Javanese. From Indonesia!” :))

Cara wanita menggunakan jilbabnya di seluruh dunia itu berbeda-beda dan saya menjadi pemerhatinya. Muslimah Arab sudah pasti dengan jubah hitam dan niqabnya. Untuk menambah style pada jubahnya, biasanya aksen bordir atau payetnya bermain di daerah lengan dan ujung jilbab. Muslimah Iran biasa menggunakan kain besar seperti seprei dengan berbagai corak seperti bunga-bungaan, untuk sholat. Yang dari India dan Pakistan, paling festive dengan corak baju yang warna warni. Yang dari Turki, terlihat dari jilbabnya yang sutra full corak tapi bajunya berbentuk coat panjang berwarna gelap. Orang Indonesia paling gampang di-identify karena mereka rata-rata pake mukena putih dengan bordiran nama travel di bagian belakangnya :D

I’m blessed with travel buddies yang menyenangkan, Siti & Dani. We had fun the whole time, termasuk saat berbelanja. Saat kami di Madinah, Siti, asal Tulungagung yang selalu berbahasa Jawa timuran, saat itu akan membeli kunci koper di sebuah toko. Pemilik toko berdiri di samping kami. Siti yang tidak bisa bahasa Inggris menyikut lengan saya, “Tanyain li, berapa!”. Dengan tenang saya tanya pada penjualnya dalam bahasa Indonesia, “Berapa?” dijawab, “Tiga Riyal.” dan Siti pun bengong, “Oalah… Iso boso Indonesia yo… Lek ngono aku yo iso….” :))

Soal dagangan pula, orang sini suka bilang Halal untuk boleh dan Haram untuk tidak boleh. Waktu di Madinah, saya nawar gelang sama cincin jadi 15 Riyal dan pedagangnya bilang: “Oke, kamu cantik, halal!” -_-; Akhirnya pengetahuan itu saya terapkan untuk beli jubah hitam di Mekkah. Setelah nawar nggak berhasil juga, akhirnya saya bilang, “Ok 60 Riyal halal!” Mas nya sampe ngikik sendiri. Memang selama di sini saya ga pernah berhasil nawar. Mungkin karna mereka ngambil untungnya ga kayak di Cina yang gila2an.

Saya juga penasaran mau coba pake niqab atau cadar. Pemilik toko semangat banget kasi tau saya cadar yang paling ideal menurut dia. Sampe dicontohin cara makenya segala. Akhirnya saya pun beli dan pake. Tapi kurang matching karna baju warna-warni, tapi cuek aja. Rasanya gimana? Secara umum rasanya kayak pake kacamata hitam. Rasanya terlindung aja. Bebas dari judgement soal wajah kita harus gimana. Tapi, mungkin karna ga biasa pake, saya merasa susah nafas dan jengah ada yang nempel-nempel di muka. Di toko yang lain, saya disambut gembira sama pelayan toko: “Wahhh ada haji baru!” semua orang jadi noleh. Malu-maluin aja -_-;

Selama sekamar bertiga dalam 9 hari, kami sudah paham karakter masing-masing. Begitu sampai kamar, Dani biasanya akan berkutat di kamar mandi untuk mencuci apa saja yang bisa dicuci, Siti selalu menemukan alasan untuk membereskan barang-barang atau repacking sedangkan saya? Tidur! Ya, saya dijuluki Ms. Sleepy sama mereka karena saya tidur di setiap kesempatan. Maklum, kegiatan ibadah banyak menguras fisik dan saya selalu berusaha menjaga kondisi dengan recharge energi *alesan*

Oh ya, ada tower jam baru di sana. Jadi bisa dijadiin patokan biar nggak nyasar atau salah masuk gate yang serupa tapi tak sama di Masjidil Haram

Kalau ditanya apa yang “aneh-aneh” selama di Mekah dan Madinah, selain sembuhnya sakit gigi saya, saat di Mekah, thawaf malam itu sangat ramai karena esok hari Jumat (hari libur di Arab, sehingga banyak yang ibadah ke Masjidil Haram). Amazingly kami bertiga bisa tawaf dengan tenang dan tiba-tiba bisa menyentuh Makam Ibrahim serta berdoa dan mencium Ka’bah. Di antara keramaian yang super itu, tiba-tiba jalan seperti dilapangkan untuk kami, Alhamdulillah!

Bicara soal yang aneh, ada juga yang berbentuk peringatan. Di Mekkah, semua dibayar kontan. Maka saat kami akan berangkat ke mesjid dalam waktu yang cukup sekitar 45 menit sebelum adzan, namun kita spend time ketawa ketiwi dan ngomongin mas-mas Arab yang ketemu di jalan, akhirnya kami melongo saat harus sholat di pelataran masjid lantaran Masjidil Haram yang luasnya 125.000 m2 sudah penuh. Kami ‘nggak boleh’ masuk ke Masjidil Haram! Astaghfirullahaladzim!

Lantaran tiap pulang sholat dari Masjidil Haram, saya selalu melewati KFC, maka jadilah wangi-wangian ayam membuat saya ngiler berat berhari-hari. Tapi beli KFC di sana cukup repot karena ngantrinya luar biasa. Akhirnya begitu sampe di Jakarta, saya langsung pesan KFC sama papa saya :))

Selain beribadah, kami juga berziarah ke berbagai tempat, termasuk Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa setelah berpisah selama 200 tahun. Nyokap pesen banget kalo ini tempat yang oke buat minta jodoh. I said, “Ok mom, I’ll stay there longer.” :))

Di sana banyak banget orang Indonesia… banyak tukang bakso… sampe nggak berasa jauh di luar negeri, tapi berasa di Bandung atau Jawa Tengah aja hehehe

Semoga saya bisa berhaji dan kembali ke tanah suci kembali bersama keluarga. Amin…

Comments

comments

A writer of 30 books. Co-Founder & CMO Storial.co & NulisBuku.com. Initiate StartupLokal, the biggest startup community in Indonesia. Co-Managing Director of Girls in Tech Indonesia.

20 Comments

Leave a Reply to Eno Siregar Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.