Ollie's Journal

Insights on books, writing, startups, and lifestyle in between

Tentang Perempuan Mandiri

29

perempuanmandiri

Saya adalah wanita pebisnis yang bekerja dari pagi hingga malam. Tiap pagi, saya akan pakai baju dan sepatu kerja, berangkat ke kantor dan menyapa para tetangga saya yang rata-rata ibu rumah tangga. Suami saya bekerja remote dari rumah dan juga mempunyai bisnis sendiri yang dijalankan dari home office. Ia keluar tiap pagi, pakai kaos dan celana pendek, pergi ke warung dan menyapa ibu-ibu tetangga yang sama.

Ada 2 hal yang mungkin dipikirkan sama para tetangga saya:

  1. Saya wanita mandiri yang amazing; gila yaa keren banget bisa mandiri dan punya bisnis sendiri, rajin berangkat pagi pagi; atau
  2. Saya feminis; kelewat mandiri sampai nggak sempat ngurusin suaminya. “Busyet suaminya diurusin kagak tuh, dasar nggak mau kalah ama laki.”

Ya, di Indonesia sebagai wanita bekerja, kita memang masih menghadapi pro dan kontra ini. Padahal FYI aja nih, 60% kegiatan usaha kecil menengah di Indonesia itu dijalankan oleh wanita. Banyak sekali amazing woman mulai dari penulis, artis, pebisnis, hingga wanita karir yang berhasil menginspirasi dan membantu lingkungannya menjadi lebih baik kualitas hidupnya.

Tapi kenapa terus aja ada tudingan miring kepada wanita yang mandiri? Mulai dari disalahkan karena susah dapet jodoh (ih!), susah punya anak (curcol hehe), nggak gaul (karena gak ikut arisan sama ibu-ibu), dituduh nggak ngurusin suami (atau anak) dan masih banyak lagi.

So, what do you think, sisters? Pernah nggak ngalamin hal-hal di atas? Menurut kamu perempuan mandiri itu amazing woman atau ‘sekedar’ feminis? Let’s hear from you!

email

Comments

comments

29 Comments

  1. Fitria Yasmin

    Tergantung niat mandirinya untuk apa, kali Lie. Kalo buat saya sih perempuan mandiri itu oke banget, apalagi kalo emang niatnya adalah untuk mengekspresikan passion-nya, memanfaatkan potensi diri to the max, dan mengisi setiap harinya dengan kegiatan yang bermanfaat (yes, life is so short!). Perempuan mandiri seperti ini akan merasakan kenikmatan dari proses yang dijalaninya, bukan hanya dari achievement (pembuktian) bahwa dia berhasil.

    Moreover, perempuan mandiri di sini bukan berarti she doesn’t care of anything, she doesn’t need anyone whatsoever kan? Kalo saya mengartikannya lebih pada sosok perempuan yang mau dan mampu berbuat dan menghasilkan sesuatu dari kerja kerasnya. Perempuan yang kalo suatu saat karena satu dan lain hal harus melakukan everything by herself, she can! Perempuan yang kalo tiba-tiba harus sendirian, dunianya tidak berakhir. Perempuan mandiri juga bisa tetap kasih perhatian yang cukup untuk keluarganya, walaupun mungkin tidak dalam bentuk kuantitas waktu yang sebanyak yang diinginkannya. Well, you have to give up something to get something, right?

    Lain halnya kalo jadi perempuan mandiri karena ada niat untuk mengungguli laki-laki, misalnya. Saya pikir dia akan kurang menikmati proses/pekerjaannya.

    Tapi ngomong-ngomong, bener juga kalo mau jadi “perempuan mandiri” itu banyak tantangannya. Saya yang ibu rumah tangga sudah mulai mencicipi rasanya dipertanyakan waktu saya mengungkapkan ingin melakukan sesuatu (kegiatan di luar rumah). Nomer satu pertanyaanya tentu saja “trus anak & suami gimana?”. Dueng, langsung berat rasanya hati. Tapi nggak papa, let them say whatever they wanna say, toh anak saya memang masih kecil dan lagi lengket2xnya sama saya. Jadi anggap saja waktu saya di rumah sekarang jadi investasi untuk misi saya di waktu yang akan datang! Bikin business plan and other plan yang buanyaak, belajar banyak hal, siapa tau nanti ada kesempatan, bisa langsung deh! ;)

    [Reply]

    Reply
  2. Ibukerte

    Menurut ibukerte, peran wanita itu dinamis, ada kalanya dia harus konsentrasi pada karirnya, namun juga pasti ada waktunya dia harus memperhatikan hal-hal selain karirnya sendiri. Profesi utama saya memang Ibu Rumah Tangga. Anak dan suami merupakan prioritas saya saat ini, namun ke depannya jika anak saya sudah mandiri, saya ingin kembali bekerja entah itu bekerja pada orang, atau membuka usaha sendiri yang sudah mulai saya rintis. Kalau wanita mandiri menurut saya fine-fine aja, kan kebutuhan berekspresi merupakan kebutuhan dasar baik laki-laki maupun perempuan. Rasanya tidak adil kalau wanita aktif di sebut mau menyaingi laki-laki. Kalau masalah anak, saya email saja yach…hehehe

    [Reply]

    Reply
  3. ernit

    terus terang, itu juga adalah pertanyaan saya dari dulu.
    kalau ada istilah, “di belakang laki2 yg sukses ada perempuan yg kuat”… kenapa sampai sekarang saya belum menemukan kasus yg sebaliknya ya?

    [Reply]

    Reply
  4. lenidisini

    Hmm.. kalo saya memilih untuk jadi seorang perempuan mandiri yang amazing jikalau sudah berumahtangga nanti.
    Bener kata mbak Fitria Yasmin, semua tergantung niatnya.
    Gak bisa dinafikkan mbak, kalau ada beberapa perempuan yang memang purely feminis, tapi seiring waktu nanti akan terlihat perbedaannya, antara perempuan mandiri yang amazing itu dengan para feminis hehe XD *ah sotoy enak juga hihi*

    Yah, impian saya nanti kalau sudah berumahtangga..
    Bisa menjadi partner yang baik untuk suami, baik dalam kehidupan rumah tangga ataupun untuk mendukung karirnya.
    Kalaupun ternyata nanti saya dibutuhkan untuk bekerja dari rumah saja dan tidak bekerja kantoran, i’ll do it.
    Toh, masih bisa berekspresi dan mengembangkan bakat juga dari rumah kan :D
    *ah udah ah, makin sotoy saja saya ~ maklum belum ngecap kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya mbak hihi*

    [Reply]

    Reply
  5. pite

    whatever mau dibilang amazing or feminims its no big deal selama tidak ada pihak yang dikorbankan (suami, anak, diri sendiri bahkan lingkungan)

    [Reply]

    Reply
  6. Yuli

    Either. Paling tdk buat kondisi saya saat ini. Tidak merasa amazing, krn this is something i have to do. Tidak jg feminis, krn kl ada laki2 yg datang kepada saya dan mengatakan, “berhentilah bekerja diluar rumah, menikahlah dgn saya, let me take your burden”, ga pake nunggu lama2, langsung blg: i do, i do!
    Dan saya rasa banyak wanita pekerja yg “trully amazing” diluar sana, e.g mbok2 pengangkut sayur, kondektur, bahkan sopir angkot, yg merasa apa yg mereka buat tdk msk kategori amazing, but simply surviving…

    [Reply]

    Reply
  7. Erma

    kalo saya malah ‘dimaafkan’ jika ada orang yang liat rumah saya berantarakan, jarang disapu, baju belum distrika berserakan di meja, dan jarang keliatan dalam pandangan tetangga. Biasanya mereka menghibur dengan “owh…kerjanya sampai malem sih ya”. Padahal kerjanya cuma sampe magrib, gaul dan jalan-jalannya yang sampai malam, hehehe.

    [Reply]

    Reply
  8. susi

    Perempuan mandiri itu amazing woman :) cuma maksudnya mandiri itu apa dulu ?
    Pertanyaan suami : Kalau kamu ditawari Mr. G. Armani jadi CEO yg megang Asia Pacific sampai Antartica, gaji ribuan $,tiap hari poto kamu muncul di koran dan majalah, punya follower ribuan, fans jutaan, diundang seminar-seminar,diakui sebagai wanita yg sukses dan aktual, tapi harus kerja dari pagi sampai malam,ninggalin keluarga mau ngk ?
    Jawab saya : I’m sorry Mr.Armani, kebersamaan dan waktu bersama anak-anak saya dan keluarga saya tidak akan pernah bisa anda bayar dengan dollar apalagi rupiah…lagipula Mr. saya bisa kok mendapatkan penghasilan tanpa meninggalkan rumah dan melewatkan masa-masa pertumbuhan emas anak-anak saya.

    Mbak Ollie, insyaAllah kalau nanti dikaruniai anak ditunggu postingan berikutnya ya, masih bisa ngk pergi pagi pulang malam and anak dibesarkan oleh orang lain :)

    [Reply]

    Reply
  9. ibunyachusaeri

    Sebenarnya jd perempuan mandiri itu menurut saya adalah bekal untuk hidup kita, apabila terjadi sesuatu yg buruk. Misalnya suami kita meninggal dan kita memiliki anak yg msh membutuhkan biaya u/ skolah. Kalo qta ga mandiri kayaknya agak susah yah, apalagi jk hrs mencari pekerjaaan di usia yg sdh tdk muda lagi. Pokoknya selama keluarga & pekerjaan bs berjalan seimbang saya pkr ga masalah.

    [Reply]

    Reply
  10. Hanif Ilham M

    saya laki2, boleh memberikan tanggapan?
    dalam agama tetap laki2 mutlak mencari nafkah, itu yang saya tahu, sehingga istri boleh2 saja mencari nafkah, asal tidak melangkahi kewajiban suami, sampai menelantarkan rumah tangga. dengan artian, jika sumai-istri tersebut sudah saling menyetujui dengan keadaan yang diambil, istri bekerja suami juga, ya tidak apa-apa, namun urusan rumah tangga tetap menjadi tanggung jawab bersama. sekian. hehe…

    wah, baru tahu kalo disini blognya admin kutubuku.com.
    salam kenal mbak, mampir2 balik kalo sempet, thx…

    [Reply]

    Reply
  11. Yofie Setiawan

    Wah apa mata saya masih buta saja ya? Kalau di lingkungan sekeliling saya justru banyak wanita yang masih manja2, mencari laki2 mapan, atau mengandalkan orang tua nya yang mapan… Justru saya salut dengan mbak Ollie yang meskipun perempuan, muda, bisa mandiri…

    [Reply]

    Reply
  12. Leila

    Saya termasuk wanita mandiri yang sempat merantau di Eropa selama 6 tahun untuk kuliah dan kerja sebelum menikah. Tapi setelah menikah dan punya anak, rasanya berat sekali untuk pergi-pergi meninggalkan anak. Makanya ikutan mbak Ollie buka bisnis online di http://www.sulaymancity.com
    Sekarang sibuknya baru bisa di rumah aja, blum bisa pergi-pergi banyak, soalnya masih setting up manajemen yang bisa ditinggal-tinggal, sambil nemenin anak tentunya. :)

    [Reply]

    Reply
  13. ellis trisilia

    Wanita mandiri adalah “amazing”, karena saya yakin sebagian besar melakukannya dgn misi dan visi yang hampir sama, demi keluarga dan orang2 yang disayangi. mandiri dalam artian dia bisa mencari nafkah utk dirinya sendiri dan utk keluarga. Apalagi yang masih single, mandiri adalah harus supaya bisa menapakkan kaki di bumi ini dengan kepala tegak. Karena menjalani hidup ini tidak mudah…^^

    [Reply]

    Reply

So, what do you think ?