Uncategorized

Pelajaran dari Penjual Majalah

Tanyakan pada orang-orang yang dekat dengan saya, mereka akan langsung setuju bahwa saya memiliki kecanduan akut pada majalah. Buku, oke lah, hampir semua pembaca blog ini tahu saya punya toko buku online. Tapi majalah ini memang khusus. Setiap kali melewati kios majalah, pasti minimal saya menoleh. Seringnya mampir dan membeli satu majalah. Jika tidak ada kesempatan untuk membeli majalah, maka saya pasti akan meniatkan diri mencarinya. Seringnya sih di malam hari saat semua toko sudah tutup.

Sebenarnya saya punya langganan dekat rumah, yang buka hingga dini hari untuk melayani orang-orang ‘spesial’ seperti saya :P Cuma hari ini dia tidak buka. Mungkin mudik ya, sebentar lagi Lebaran. Maka setelah muter-muter akhirnya kita ketemu satu kios majalah lagi. Langsung dengan senang hati kami kesana, siap untuk belanja ekstra (on our enjoy life policy, budget is unlimited). Saat sedang memilih, tak sengaja, karena tempat dudukan majalah yang tidak begitu sempurna, saya memiringkan beberapa majalah yang dijual. Dengan susah payah saya berusaha meluruskan majalah itu kembali. Sang penjual memandangi saya tanpa menawarkan bantuan, malah melotot melihat dagangannya nggak lurus di tempatnya. Tak lama, ia membereskan majalah-majalahnya dengan kasar. Saya pun melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatahkata. Her attitude is unbearable, so I left.

Bingung mau kemana, tapi tujuan tetap sama, nyari majalah. Akhirnya diputuskan untuk pergi ke tempat dengan penjualan majalah paling lengkap yaitu Stasiun Gambir. Di saat orang-orang ke Gambir untuk mudik, kita kesana untuk beli majalah. Benar-benar nggak umum :P

Sampe sana suasana langsung berubah dari situasi dingin di kios sebelumnya. Wajah penjualnya memang terlihat keras khas orang Sumatera Utara, tapi senyumannya tulus menyambut kami. Ia langsung menanyakan kami mencari majalah apa. Kemudian ia berusaha menebak arah bacaan saya, dan merekomendasikan beberapa majalah. Ia membiarkan saya mengacak-acak tokonya demi mendapatkan yang saya cari. Ia berusaha ngobrol dengan ramah pada saya. Pengunjung tokonya tetap ramai meskipun hari sudah larut, bahkan di antara pengunjung saling menyapa dan sharing masukan majalah apa yang cocok untuk hobby masing-masing, hanya karena tertular ‘kehangatan’ yang diberikan oleh sang penjual majalah. Terakhir saat membayar, dia memberikan surprise discount! Jumlahnya Rp 4.000. Mungkin terlihat kecil, tapi bagi dia itu sebagian keuntungannya, dan hampir nggak ada penjual majalah kasih diskon, so, tindakannya tentu saja membuat saya langsung menjadi loyal customer. He’s truly a great sales person!

Now, I will try to be nice and recommend you some good magazine I read regularly:

  • CHIC (Useful Articles are everywhere)
  • Cita Cinta (Reason is similar to CHIC)
  • Sekar (Surprisingly useful in low budget magazine)
  • Herworld (I love real life experience, and Herworld provide it well)
  • National Geographic (Should I say more?)
  • Reader’s Digest (The powerful articles)

So what’s your favorite magazine? Alasannya?

Comments

comments

A writer of 30 books. Co-Founder & CMO Storial.co & NulisBuku.com. Initiate StartupLokal, the biggest startup community in Indonesia. Co-Managing Director of Girls in Tech Indonesia.

32 Comments

Leave a Reply to Luluk Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.