Antara Bis, Duit, dan BBM

“KREK!” Dua lembaran uang seribuan dirobek di depan mata gue.
“Saya nggak butuh uang kamu!” Kernet bis 46 berteriak marah. Waduh. Kok bisa gini. Seumur-umur gue bahkan nggak tega merobek uang kertas seratus rupiah.
Ceritanya sebenernya lumayan klasik. Bis 46 memberlakukan tarif baru Rp 2.500. Salah satu penumpang wanita yang duduk di depan gue, merasa ia hanya naik bis dalam jarak dekat. Ia pun memberikan uang yang menurutnya pantas dengan jarak yang ia tempuh: Rp 2.000. Ternyata, kernet yang sensitif dengan kenaikan harga BBM dan kejaran setoran, tak membiarkan Rp 500-nya begitu saja. Terjadilah adu mulut yang sengit, yang diakhiri dengan insiden perobekan uang kertas senilai Rp 2.000.
Dalam kejadian ini, buntutnya bisa panjang:
1. Kernet yang marah bisa saja berbuat kasar saat itu juga (baik dengan tangan kosong ataupun dengan senjata kalo ada)
2. Pada saat si penumpang turun, bisa saja ia tidak diturunkan atau didorong keluar
3. Muka si penumpang akan ditandai dan kernet mengirimkan bala bantuan premannya untuk mencopet/merampok
Intinya kejadian-kejadian tragis akan menyelimuti, hanya karena Rp 500.
Singkat cerita, gue kuliahin dikit kernetnya tentang nilai uang yang dia robek itu. Trus gue bayarin ongkos penumpang di depan gue, dengan harapan kalau dia lihat orang lain menghargai uangnya maka ia sendiri juga akan menghargai uangnya. Mbak-mbak di depan gue mau bayar kembali uang gue, tapi gue say no. Trus mbak itu memberikan uang Rp 2.500 ke pengemis yang barusan naik.
Di Pancoran gue turun dan melanjutkan perjalanan dengan metro mini. Dari naik ampe turun, abangnya sama sekali tidak menagih duit ke gue. Padahal 604 gitu loh hauhhehe. Masa ga butuh duit. Kernetnya cuma duduk aja di depan sambil ngobrol-ngobrol dengan supir. Trus setelah gue menimbang, apakah ini rejeki gue atau bukan, akhirnya gue memutuskan untuk melemparkan uangnya ke si Kernet sebelum turun, dan dia pun spontan berdiri dengan wajah heran.
“Makasih ya, Bu!”
Haha. Jarang-jarang kan kernet bilang terimakasih. Gue aja takjub.
Anyway, you’re welcome.
Ps: Ini kedua kali gue naik bis dalam seminggu. First attempt, gue jatuh di 46 karena bisnya nggak berhenti sama sekali waktu gue naikin, padahal gue lagi pegang tas di tangan kanan, laptop di tangan kiri dan menggunakan high heels
Tapi di second attempt gue semakin terlatih.


emang klo suara kertas dirobek ituh “Krek!” yah mba?
:P
[Reply]
Wuihh… Serius tuh dirobek? ckck ck.. aku juga masih suka bayar pake harga lama sih, tapi kalo abangnya minta ya dikasih.. ngelawan kernet gitu lho.. gemana gak ngeri?! Anyway.. makin terlatih tuh naik turun bus pake heels, heheh..
[Reply]
@Iyank, lah emang yang bener gimana suaranya hehe
@titiw, Iya dirobek gitu. Mengenaskan. Hehe sekarang dah terbiasa pake high heels di bis. Keseimbangan tambah bagus
[Reply]
gara2 500 nyawa bisa melayang, sungguh menyedihkan
[Reply]
hehehehe, klo dah emosi mmg begitu seh…
[Reply]
sigh.. saya bahkan gak tau mo komen apa lie..
[Reply]
Gue jg pernah 2x naek 640 ga ditagih2… ujung2nya tetep gue bayar jg.. malah kernet-nya muka bingung
[Reply]
Nyesek bacanya Lie…udah parah banget ya sekarang di Jakarta…
[Reply]
Begitulah kenyataan di lapangan…
[Reply]
Biasakan untuk ngasi lebih. Mau naik taksi, bis, atau angkot sekalipun. Budaya ngasi tips emang belum begitu banyak yg mempraktekan di negeri kita.
[Reply]
Houses are quite expensive and not everybody can buy it. However, loans was created to aid different people in such situations.
[Reply]