Mengorangkan Orang

| 9 Comments

Istilah ini baru saja saya dengar saat makan malam dengan saudaranya Goldy tadi malam. I think he’s unbelievably smart, dan pola pikirnya benar-benar beyond dari pikiran saya. Seolah saat saya baru akan beranjak memikirkan sesuatu, dia sudah berada disana, memberikan penjelasan. He could read my mind. Amazing.

Biasanya, setiap hari, saya datang ke kantor dan lari terburu-buru masuk ke dalam lift kemudian masuk ke ruang kantor. Sudah. Tanpa interaksi dan dingin.

Selama ini saya takut, jika saya menatap ke depan, saya harus bertatapan dengan orang-orang yang akan memandang saya dan kemudian keadaan menjadi canggung. Karena saya tidak kenal mereka, mereka tidak kenal saya.

Kemarin, saat mood saya sedang bagus, saya menatap ke depan. Seorang satpam membukakan pintu untuk saya. Mungkin ia sering lihat saya turun dari mobil. Yang jelas, ia kenal saya. Saya berterimakasih. Dia ingat saya.

Kemudian saya nyaris ketinggalan lift, tapi seseorang membukakannya lagi untuk saya. Orang itu adalah tukang antar galon di kantor saya. Dia kenal saya juga. Saya memandangnya dan tersenyum, berterimakasih. Dia ingat saya.

Di dalam lift, seorang bapak menekan angka ’3′, dan bilang kepada saya, “Lantai 3 kan? Kutukutubuku kan?”. Saya terpana. Dengan riang saya tanya kok dia bisa tahu? Dia cuma bilang, “Tahu dong!”. Dia berkantor di lantai 4, di sebuah perusahaan yang saya baru dengar. Tapi kok dia bisa kenal saya. Saya ucapkan terimakasih. Dia ingat saya.

Di depan meja kerja saya termenung-menung sendiri. Mereka semua adalah orang, tapi selama ini saya menganggap mereka tidak ada, seperti sebuah iklan di halaman Detik.com yang selalu saya abaikan. Blind spot istilahnya.

Dari pembicaraan tadi malam, saya mulai sadar, bahwa sudah saatnya saya berhenti cuek dengan lingkungan dan mulai menikmati detail yang ditawarkan kehidupan, salah satu caranya, dengan… mengorangkan orang.

email

Comments

comments