It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
Beberapa waktu yang lalu, saya menyinggahkan diri ke Perpustakaan Nasional yang di Jl. Salemba. Begitu sampai disana, tak begitu jelas mana yang menjadi gerbang utama/lobby dari perpustakaan. Terpaksa tanya-tanya orang lewat yang jumlahnya lumayan sedikit.
Setelah dapat pintu masuknya, kembali bertanya lagi pada seseorang, tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Well, clearly perlu banyak direction di dalam Perpustakaan.
Pertama, daftar dulu jadi anggota.

Cuma isi form, bayar Rp 10.000 dan difoto. Jadilah kartu perpustakaan yang cantik ini dalam 10 menit.

Duh tapi kenapa status saya jadi Mahasiswa ya
Well, kesalahan yang menyenangkan sih haha.
Kemudian, dari situ, titip tas dan lain-lain dan naik lift menuju lantai 2 (apa 3 ya?). Di situ ada ruangan berisi judul-judul buku yang tersusun dalam laci, dan ada juga komputer kalo mau cari dengan 100x lebih mudah. Saya nggak tau mau cari buku apa. Jadi iseng aja search “Marketing”. Trus catet nomer referensi bukunya di sebuah form lagi, ditandatangani dan dicap. Trus disuruh naik ke lantai atas by lift.

Sampai di lantai atas, bapak petugasnya terheran-heran liat gue cuma tulis satu buku. Mungkin biasanya segudang. Dia nawarin apakah gue mau tambah buku lain lagi sekalian. Tapi gue bilang, nggak deh. Lain kali. Trus dia minta masuk ke dalam ruangan buku untuk mengambil pesanan gue.

Tak lama petugas kembali dengan sebuah buku yang gue inginkan. Judulnya lupa banget, sorry guys. It’s been a while soalnya. Trus habis itu gue kemana? Bingung lagi. Tapi kata pak petugas, ruangan membaca sudah ada di lantai yang sama. Jadi langsung mengendap-endap kesana.

Ternyata masih kosong
Dan gue menjadi ratu buku disana. Pas udah bosen membaca dan ingin pake internet (baca: WiFi), iseng-iseng tanya sama salah satu petugas. “Ada internet kan, Pak?” Dijawab dengan mantap. “ADA.”
Berbekal pengetahuan minim itu, saya naik lagi ke lantai atas. Pas nanya sama petugas lantai atas, “Internetnya mana?”, hanya dijawab dengan menunjukkan seonggok kabel tanpa CPU. “Lagi rusak.”
Ternyata setelah ditanya-tanya lagi, hanya ada satu atau dua PC untuk online, dan itu juga pakenya kudu BAYAR.
Ya udah pulang dulu ya mas, mbak, pak, bu. Insya Allah, lain kali saya kembali lagi.
Insya Allah…
6 Responses for "Baca Buku di Perpustakaan Nasional"
dari dulu pengen nyoba ke perpustakaan nasional tp selalu ragu…ternyata keraguan saya itu benar: gak bisa nyari buku sendiri kayak di perpustakaan2 umumnya (seperti CSIS tanah abang). kalau pinjam buku bawa pulang boleh gak. btw lam kenal ya:)
kirain beneran mahasiswa
nita, kemaren aku nggak tanya, tapi kayaknya sih bisa aja bawa pulang kan udha punya kartu anggota.
jimmy, hehehe kalo tampang sih masih mahasiswa (tingkat atas)
waaa kartu perpus-nya keren abis euuy.
lam kenal ya
Udah lama gak mampir PerpusNas. Satu hal menarik yang dulu sering gue lihat2 kalau ke sana adalah koleksi koran2 jadul dalam microfilm. Masih bisa di akses gak ya sekarang?
Masih bisa kayaknya di ruang audio videonya
Leave a reply