It’s all about writing, photography, books, design, business, internet and love
If someday you look at the sky and wondering, you might get some inspirations through the gigantic advertising balloons spread all over the town. Advertising Balloons are created to attract attention and make our product more visible to the target market eyes.
Is it expensive? I don’t know
But in Indonesia, advertising balloons are usually used to promote exclusive events and brands.
What kind of advertising balloons that we used to successfully promote our brand? Use bright color, big fonts or logo, unique shape, and place it in a location that would be visible for more people. So, have a great time, creating your own advertising balloons!
Hari ini adalah hari lahir RA Kartini. Biasanya untuk memperingatinya, anak-anak sekolah sibuk memakai konde dan kebaya. Tapi tentu makna yang terkandung pada hari ini lebih dalam lagi.
Saya ingat waktu itu menemukan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, membacanya dan terkagum-kagum dengan pola pemikiran Kartini yang sudah sangat maju jika dibandingkan dengan kondisi pada saat itu.
Buku tersebut berisi kumpulan surat-surat Kartini kepada teman-temannya di Belanda. Ada petikan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya (4 Oktober 1902), dimana ia ingin wanita mendapat kesempatan yang sama dalam pendidikan.
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. “
Alhamdulillah, sekarang wanita Indonesia telah mendapatkan hak pendidikan yang sama dengan laki-laki. Namun jaman sekarang, ada ‘hambatan’ baru bagi kaum wanita yang menghalanginya untuk bersama dan mendidik buah hatinya secara langsung. Rata-rata wanita sekarang bekerja di luar rumah, dan jika tinggal di kota besar seperti Jakarta, kadang harus berangkat saat anak-anak belum bangun dan pulang saat anak-anak sudah tidur kembali. Betapa mirisnya.
Di tengah fenomena itu, mulailah ibu-ibu muda berbondong-bondong mencari alternatif agar bisa selalu berdekatan dengan anaknya. Salah satu caranya adalah dengan menemukan peluang usaha di rumah.
Banyak email yang masuk ke saya, dengan sejuta pertanyaan tentang memulai bisnis dari Kartini-Kartini masa kini
Untuk mengakomodir keinginan itu dan sekaligus memperingati hari Kartini, Kutukutubuku.com bekerja sama dengan Transmedia Pustaka, mengadakan talk show di Asia Bistro, Grand ITC Permata Hijau, Unit Emerald No. 32, pada tanggal 26 April 2008 (Pukul 10.00 hingga 13.00 WIB) bertema, “Wanita dan Wirausaha“. Pembicaranya antara lain adalah pengusaha-pengusaha yang dibahas dalam buku “Panduan Lengkap Memulai dan Mengelola Usaha di Rumah“, termasuk Kutukutubuku.com dong
Ini event pertamanya Kutukutubuku.com, so, kita sangat bersemangat nih untuk sharing pengalaman kita
Jadi, bagi Anda yang:
Ini saat yang tepat untuk mendapat informasi, bertanya, dan mendapat masukan dari pengusaha yang udah terlebih dahulu nyemplung di dunia bisnis
DAFTAR sekarang dengan mengirim email ke Kutukutubuku.com. Untuk acara ini, siapkan Rp 50.000 yang akan ditukar dengan:
Dalam kesempatan ini akan ada launching BlogBrary 2008, bekerjasama dengan Kutukutubuku.com, berupaya menghadirkan perpustakaan-perpustakaan untuk anak Indonesia. Peserta talk show diharapkan membawa buku bekas yang layak dibaca untuk anak-anak usia sekolah hingga remaja. Yuk kita ikut serta mencerdaskan anak Indonesia!
Ok, buruan DAFTAR sekarang ya! Tempat terbatas banget, cuma available untuk 25 orang! Kalo kurang jelas, bisa telepon ke HOTLINE 081519922250 atau 021-7981283! See you @ the event! ![]()
Buat yang bertanya-tanya gimana ceritanya Kutukutubuku.com selama ini menjalankan bisnis toko buku online, bisa baca Tabloid Peluang Usaha terbaru yang secara gamblang mengupas seluk beluk berbisnis online, lengkap dengan nominal-nominal-nya pula hauehhehehhe. Malu juga sih, tapi ya, kalo bisa bantu orang menjadi percaya diri untuk berwirausaha, kenapa nggak ya
Oh ya, belum ada pengumuman resmi, tapi tgl 26 April nanti, Kutukutubuku.com mau ngadain event untuk peluang usaha di rumah dikaitkan dengan online business.
Details akan disampaikan later ya ![]()
Hari ini gue memutuskan untuk bekerja dari rumah dan jadi berkesempatan nonton berita siang di ANTV. Yang pertama gue lihat malah hal miris tentang seorang ibu yang tinggal di daerah lumbung beras, tapi ironisnya ia harus menjadi pemulung beras alias ngumpulin beras yang butiran-butirannya tak sengaja jatuh ke tanah.
Beras jatuh itu disapu dan dikumpulkan dalam sebuah tempat, persis kalo kita lagi nyapu debu di rumah dan dikumpulin di wadah plastik. Bedanya habis nyapu, sampahnya akan kita buang. Tapi untuk yang ini, beras yang kotor dan berdebu itu akan dicuci dan dijual kembali. Uang hasil penjualan beras hasil memulung itu yang nanti digunakan untuk hidup.
Tragis. Nggak ngerti deh gue… masih speechless. No further comment.
Saya baru pulang dari sebuah meeting di Bandung dengan badan sudah tidak fit karena perjalanan bolak balik Jakarta - Bandung dan juga karena kemarin malam saya kembali mengalami gejala demam berdarah (mungkin trombosit lagi turun drastis). Teman saya menghentikan sebuah taksi Blue Bird yang segera saya tumpangi menuju ke rumah. Jalanan lancar dan sepi, saya mengucap syukur dengan keadaan yang tumben ini.

photo credit: Boris van Hoytema
Sampai di belokan Slipi Jaya, taksi terhenti dan seperti biasa, di kala tempat lain sudah sepi, daerah rumah saya masih terus macet (padahal sudah hampir jam 9 malam). Saya lihat supir taksinya, masih muda, santun, dan sabar. Saya adalah pengguna regular Taksi Blue Bird dan ada beberapa sopir yang minimal mengeluh atau mendecakkan lidah saat bertemu dengan kemacetan, tapi yang ini berbeda. Saya jadi agak tertarik untuk mengajaknya bicara.
“Di sini langganan macet, Pak!”
“Oh… iya mbak… sekarang di Jakarta sudah merata…,” jawabnya sambil tersenyum.
Selanjutnya saya tanya sudah berapa lama bekerja menjadi supir taksi. Dia bilang baru 1 tahun. Sebelumnya ia bekerja membantu usaha orang yang satu kampung dengannya di Padang. Sayang, usahanya mandek dan ia terpaksa di-PHK. Dengan sedikit curhat, dia bilang kalau penghasilannya sebagai supir taksi setiap hari seperti hilang begitu aja. Pas-pasan gitu. Melihat pribadinya yang positive, saya memutuskan untuk memberikan sedikit motivasi.
“Bapak bisa nyetir ini keahlian loh. Kalo orang lain yang nggak bisa nyetir, mungkin setelah di-PHK, luntang lantung nggak ada kejelasan nasib. Bapak beruntung bisa bekerja dengan Blue Bird. Salah satu brand taksi terkemuka. Trus Bapak juga tinggal gratis di mess-nya Blue Bird. Wah, asyik sekali itu!”
“Tapi mbak, tinggal di mess itu terlalu ramai… bising….”
“Loh, itu seninya, Pak. Sebelum sukses, kita memang harus punya pengalaman aneh-aneh dulu, biar nanti kalau sudah sukses, ada bahan cerita lucu untuk anak cucu!”
Pak supir itu tertawa. Mungkin bingung mbak ini ngomong apa sih hehe.
“Intinya itu harus terus belajar, Pak. Biar maju!”
“Tapi mbak… gimana mau maju di perusahaan taksi begini? Paling saya bisa majuin mobil ke depan!”
HAHAHA. Saya tertawa dalam hati. Ini masalah mindset. Pikirannya telah menghalanginya untuk maju. Ia berpikir bahwa selamanya (or at least dalam 10 tahun ke depan), dia akan tetap bekerja di Blue Bird. Jika itu yang dipikirkannya, maka itulah yang akan didapatnya. Ganti mindset itu, please! Saya mencoba membantunya.
“Pak, baca buku dong. Belajar dari buku. Banyak ilmu yang bisa didapat dari situ. Trus, internet. Bapak bisa pake komputer?”
“Bisa mbak, tapi cuma buat ngecek penghasilan aja,” sahutnya terkekeh.
“Yaa… coba deh belajar pake internet! Dari situ Bapak juga bisa belajar banyak! Ilmu pengetahuan, itu modal untuk maju!”
Dia seperti belum mengerti, mungkin dengan sedikit contoh kasus dia akan paham.
“Mungkin saja suatu hari, ada penumpang Bapak yang punya lowongan kerja, dan menawarkan Bapak untuk jadi staf di kantornya, hanya karena Bapak berwawasan luas, hasil dari membaca buku dan browsing internet!”
Dia mengangguk-angguk seperti mencoba mencerna apa yang baru saja saya bilang.
Tak terasa, saya sudah sampai di depan rumah. Saya turun dari taksi sambil berkata kepadanya,
“Sukses ya, Pak!”
Samar-samar, saya mendengar ia menjawab…