Kisah Pemulung Beras
Hari ini gue memutuskan untuk bekerja dari rumah dan jadi berkesempatan nonton berita siang di ANTV. Yang pertama gue lihat malah hal miris tentang seorang ibu yang tinggal di daerah lumbung beras, tapi ironisnya ia harus menjadi pemulung beras alias ngumpulin beras yang butiran-butirannya tak sengaja jatuh ke tanah.
Beras jatuh itu disapu dan dikumpulkan dalam sebuah tempat, persis kalo kita lagi nyapu debu di rumah dan dikumpulin di wadah plastik. Bedanya habis nyapu, sampahnya akan kita buang. Tapi untuk yang ini, beras yang kotor dan berdebu itu akan dicuci dan dijual kembali. Uang hasil penjualan beras hasil memulung itu yang nanti digunakan untuk hidup.
Tragis. Nggak ngerti deh gue… masih speechless. No further comment.



mungkin mba bisa memberikan jalan keluar?
[Reply]
Saya bisa bantu apa ya… lagi mikir nih…
[Reply]
ke manakah orang pergi ketika perut lapar, anak sakit, dan tidak ada uang sepeser pun di kantung, beras pun sudah habis? jalanan.
berapa banyak kah pemakai jalan raya yang sudi membagi sekadar uang 500 – 1000 rupiah dengan mereka? tidak banyak.
adakah cara lain membantu mereka? ada, gak terbatas, jika pun ada, batasnya hanyalah imajinasi….
[Reply]
Dunia sering tidak adil ya ?
[Reply]
mengapa begitu? padahal banyak orang yang tidak bisa makan. tetapi malah membuat orang sakit
[Reply]
orang yang kebanyakan duit masih banyak yg buang – buang makanan, paahal orang kelaparan msh banyak juga, mana kepedulian kita?
[Reply]
potret antagonis di negeri ini, miskin di lumbung padi…
semoga ibu tersebut selalu kuat dan tabah aja dan semoga Allah beri kemudahan disetiap kesulitannya…
[Reply]
Cerita ini cukup menohok. Khususnya, bagiku yang kadang menyia-nyiakan makanan yang tersedia di meja makan rumah.
[Reply]